counter free statistics Post Comments

Selamat Datang Di Web Blog Saya. Silahkan Melihat-lihat isi didalamnya, Copy Paste lah sebanyak-banyaknya, tapi jangan lupa DILAMPIRIN SUMBER nya. O iya... Komentarnya nya wajib di isi...!! Terima kasih.

6.30.2010

Perencanaan Bangunan 2

0 comments

Sekedar sharing saja, disini saya upload video tugas mata kuliah Perencanaan Bangunan 2, tugas ini diampu oleh Ibu Retna Hidayah, Ph.D.
Terimakasih Sudah Mengunjungi.

Read More...

6.10.2010

KONSEP DAN PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH SMK-BI

0 comments

Oleh:
Prof. Slamet PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D

KEHIDUPAN DICIPTAKAN OLEH-NYA SERBA BERPASANG-PASANGAN
Adanya keinginan yang didorong oleh kebutuhan (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan (akibat);
Ada tujuan SMK yang ingin dicapai (sebab) dan ada upaya-upaya untuk mencapai tujuan SMK (akibat);
Upaya-upaya tersebut ditempuh secara sistem (utuh & benar), dengan catatan utuh dan benar menurut Hukum-Hukum Ketetapan Nya

TUJUAN SMK-BI
Mengembangkan kualitas dasar siswa SMK-BI (daya pisik, daya pikir, dan daya qolbu)
Mengembangkan kualitas instrumental (penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta jiwa kewirausahaan) yang diperlukan untuk bekerja pada bidang keahlian tertentu, nasional & internsional
Mengembangkan jati diri sebagai warga bangsa Indonesia
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia

PENGEMBANGAN KUALITAS SISWA SMK-BI
Kualitas Siswa SMK-BI
Kualitas Dasar
Kualitas Instrumental
Daya pikir
Daya qolbu
Daya pisik
Kualitas ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta jiwa kewirausahaan untuk bekerja

PENGEMBANGAN KUALITAS DASAR SISWA SMK-BI
Berfikir Analitis
Berfikir Kritis
Berfikir Kreatif
Berfikir Deduktif
Berfikir Induktif
Berfikir Ilmiah
Berfikir Nalar
Berfikir Lateral
Berfikir Sistem

1.Daya Pikir
Iman & Takwa terhadap Tuhan YME
Rasa kasih sayang
Kesopanan
Toleransi
Kejujuran & kebersihan
Disiplin diri
Harga diri
Tanggung jawab
Respek thd. diri sendiri & orang lain

2.Daya Qolbu
Integritas
Keberanian moral
Kerajinan
Kesehatan
Ketahanan
Kestaminaan
Keterampilan (kejuruan, olah raga, dsb.)
3.Daya Pisik (Kinestetika)
Pengembangan Kualitas Instrumental (IPTEKS)
IPTEKS

Ilmu Keras:
Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Astronomi

Ilmu Lunak:
Sosiologi
Politik
Ekonomi
Psikologi
Antropologi
Seni
Dsb.

Teknologi:
Konstruksi
Manufaktur
Transportasi
Komunikasi
Bio
Energi
Bahan

Rekayasa Sosial:
Pemerintahan
Kebijakan
Manajemen
Tata Kelola
Kepemimpinan
Perpolitikan
Perekonomian
Dsb.

PENGEMBANGAN JATI DIRI SEBAGAI WARGA BANGSA INDONESIA
Memahami, menyadari, menjadikan hati nurani, mewajibkan hati nurani, mencintai dan bertindak nyata dalam mempertahankan dan mengembangkan jati diri bangsa Indonesia
Mampu menangkal manakala terjadi benturan antar nilai akibat globalisasi
Melestarikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia (preservatif) dan sekaligus terbuka terhadap gesekan dengan kemajuan negara lain (progresif)

MENJAGA KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERKEMBANGAN DUNIA
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia melalui wadah-wadah kolektif yang telah ada (PBB dan cabang-cabangnya)
Secara aktif berperan dalam pem-bangunan dunia yang berkelanjutan dari perspektif sosio-budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup
Secara proaktif ikut menjaga perdamaian dan ketertiban dunia

UPAYA-UPAYA YANG DITEMPUH UNTUK MENCAPAI TUJUAN SMK-BI
Upaya-upaya untuk mencapai tujuan SMK-BI ditempuh melalui pendekatan “sistem” (utuh dan benar)
SMK-BI dapat dikategorikan seolah-olah sebagai “sistem” karena memenuhi kriteria sebagai sistem yaitu: (1) utuh dan benar, dan (2) ada tujuan yang ingin dicapai dan ada upaya-upaya untuk mencapainya

SMK-BI SEBAGAI SISTEM
Secara visual, SMK-BI sebagai sistem dapat digambarkan sebagai berikut. Jika kita ingin menganalisis, kita mulai dari outcome, output, proses, input, dan berakhir pada konteks. Sebaiknya, jika kita ingin melakukan langkah - langkah pemecahan persoalan atau menyiapkan, maka arahnya terbalik, yaitu dimulai dari konteks, input, proses, output, dan berakhir pada outcome. Inilah cara berpikir sistem yang runtut.
Kualitas dan Inovasi
Efektifitas
Produktifitas
Efisiensi Internal
Efisiensi Eksternal

Konteks
1.Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan
2.Dukungan pemerintah & masyarakat
3.Kebijakan pemerintah.
4.Landasan hukum
5.Kemajuan ipteks
6.Nilai & harapan masyarakat
7.Tuntutan otonomi
8.Tuntutan globalisasi

Input
1. Kurikulum
2. Pendidik & Tenaga Kependidikan
3. Sarana & Prasana
4. Peserta didik
5. Dana
6. Regulasi
7. Organisasi
8. Administrasii
9. Peranserta masyarakat
10. Kultur sekolah

Komponen
Sub-komponen
Proses
1. Proses belajar mengajar
2. Penilaian
Output
1. Prestasi akademik
2. Prestasi non akademik
3. Angka mengulang
4. Angka putus sekolah
Outcome
1. Kesempatan pendidikan
2. Kesempatan kerja
3. Pengembangan diri lulusan
Catatan:
Manajemen SMK-BI berada pada seluruh komponen sekolah sebagai sistem, yaitu konteks, input, proses, output, outcome, dan dampak karena manajemen berurusan dengan sistem, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoor-dinasian hingga sampai pengontrolan/ pengevaluasian pada semua komponen SMK-BI
Kepemimpinan berada pada komponen manusia, baik pendidik dan tenaga kependidikan, maupun peserta didik, karena kepemimpinan berurusan dengan manusia
Sebelum membahas MBS, berikut disampaikan karakteristik SMK, prinsip-prinsip pendidikan kejuruan, enter-preneurship dan networking karena mereka merupakan bacaan penting bagi pengembangan SMK-BI.

KARAKTERISTIK SMK
SMK diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja
SMK didasarkan atas “demand-driven” (kebutuhan dunia kerja)
Fokus pendidikan di SMK ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja
Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan siswa harus pada “hands-on” atau kinerja di dunia kerja
Hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses SMK
SMK yang baik adalah yang responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi
SMK lebih ditekankan pada belajar dengan melakukan dan pengalaman langsung di tempat kerja
Belajar dengan melakukan di SMK memerlukan fasilitas yang relevan dan mutakhir untuk praktek
SMK memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN KEJURUAN DI SMK (PROSSER, 1925)
Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nanti ia akan bekerja
Pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan ditempat kerja
Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia melatih seseorang dalam kebiasaan berfikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri
Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia dapat memampukan setiap individu memodali minatnya, pengetahuannya dan keterampilan-nya pada tingkat yang paling tinggi
Pendidikan kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanya dapat diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya dan yang dapat untung darinya
Pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar diulangkan sehingga pas seperti yang diperlukan dalam pekerjaan nantinya
Pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan
Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut
Pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja)
Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata (pengalaman sarat nilai)
Sumber yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu pekerjaan tertentu adalah dari pengalaman para ahli pada okupasi tersebut
Setiap pekerjaan mempunyai ciri-ciri isi (body of content) yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya

Pendidikan kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jika dilakukan lewat pengajaran kejuruan
Pendidikan kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan dan hubungan pribadi dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut
Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien jika dia luwes dan mengalir dari pada kaku dan terstandar
Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi

ENTERPRENEURSHIP, NETWORKING, TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (ICT), DAN BAHASA ASING SERTA BUDAYA LINTAS BANGSA PADA SMK-BI

KARAKTERISTIK ENTERPRENEURS
Bersikap dan berpikir mandiri
Memiliki sikap berani menanggung resiko
Tidak suka mencari kambing hitam.
Selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumberdaya
Terbuka terhadap umpan balik
Selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik (meningkatkan/mengembangkan)
Tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya
Memiliki tanggungjawab moral yang baik

MENGAPA ENTERPRENEURSHIP SMK-BI?
Sebagai model baru, SMK-BI memerlukan orang-orang yang proaktif, kreatif, inovatif dan memiliki prakarsa (keberanian moral) yang tinggi untuk melakukan perubahan-perubahan dari SMK Standar Nasional menuju SMK-BI.

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN NETWORKING SMK-BI ITU?
Yang dimaksud dengan networking dalam SMK-BI adalah jaringan kerjasama antar SMK-BI, SMK-SBI dengan institusi-institusi lain di dalam maupun di luar negeri serta bentuk-bentuk sinergi positif dalam rangka untuk memajukan SMK-BI.

MENGAPA PERLU NETWORKING?
Networking antar SMK-BI diperlukan dalam rangka untuk saling belajar dari keber- hasilan atau saling tukar pikiran terhadap praktek-praktek yang baik untuk dapat dipetik menjadi pelajaran bagi SMK-BI (best practices and lessons learned). Selain itu, bentuk-bentuk sinergi positif antar SMK-BI akan saling menguntungkan satu sama lain.
Networking dengan institusi-institusi di dalam negeri sangat diperlukan dalam rangka untuk memperkuat SMK-BI karena banyak institusi-institusi dalam negeri yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan bagi pengembangan SMK-BI. Perguruan tinggi, pusat-pusat penelitian, lembaga-lembaga kursus dan pelatihan adalah contoh institusi-institusi yang layak untuk diajak kerjasama dalam bentuk-bentuk sinergi positif.
Networking dengan institusi-institusi di luar negeri, misalnya sekolah, pusat-pusat pelatihan SEAMEO, IMO, dan DU/DI sangat penting untuk dilakukan dalam rangka untuk menyerap potensi mereka agar SMK-BI secara tegar memiliki mutu yang bertaraf internasional.
Konsekwensinya, SMK-BI harus memiliki web-site atau jaringan komunikasi elektronik yang mutakhir dan canggih yang siap untuk berkomunikasi secara internasional.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Memiliki perangkat lunak dan perangkat keras (soft and hardware)
Melatih guru, karyawan, siswa dalam menggunakan TIK
Mendanai penerapan TIK di sekolah
TIK harus ada dalam struktur organisasi sekolah
Pimpinan sekolah dan orangtua siswa mendukung penggunaan TIK

PEMANFAATAN TIK/ICT DI SEKOLAH
Internet (web-site) atau e-schooling
Penerimaan siswa baru (on line)
Kurikulum melalui on line
Proses belajar mengajar (TIK di kelas dan juga bisa on line/e-learning)
Penilaian siswa
Administrasi sekolah
Perpustakaan digital termasuk clearing house
Membangun jaringan antar sekolah (domestik dan internasional)

PENYIAPAN PENGUASAAN BAHASA ASING DAN BUDAYA LINTAS BANGSA
Mengursuskan bahasa Inggris kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa
Menyiapkan laboratorium bahasa Inggris di sekolah
Mempelajari budaya lintas bangsa melalui berbagai acara/pertemuan/ events yang dirancang secara cermat

OTONOMI DAERAH
Urusan pemerintahan terdiri atas pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan (PP 38/2007 Pasal 2 ayat 1)
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah sebagai-mana dimaksud pada ayat (10) meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama (PP 38/2007 Pasal 2 ayat 2)

PP 38/2007 Pasal 2 ayat (3): Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimana pendidikan merupakan salah satunya

OTONOMI PENDIDIKAN
Otonomi pendidikan adalah hak dan kewajiban (kewenangan dan tanggung-jawab) mengenai fungsi-fungsi publik di bidang pendidikan yang diserahkan oleh pemerintahan pusat kepada pemerintah-an daerah.
TujuanOtonomi Pendidikan
Otonomi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan yang meliputi pemerataan, mutu, relevansi, efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan.
Penyelenggaraan Otonomi Pendidikan
Pendidikan tidak lagi semata-mata merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintahan pusat, akan tetapi
Dibagi bersama antar tingkatan pemerintahan dan disebar/didistribusi ke pemerintahan daerah; hegemoni pemerin-tahan pusat menjadi pudar; keseragaman dan komonalitas menjadi kerdil; sebaliknya kebhinekaan disuburkan namun harus tetap dalam bingkai peraturan perundang-undangan yang berlaku secara nasional; mentalitas sentris dijangkar jauh-jauh, sebaliknya prakarsa dan kreativitas yang selama ini terpasung ditumbuh-kembangkan; struktur organisasi yang semula sangat hirarkis dan gemuk dipangkas menjadi
datar dan langsing; administrasi berlebihan dan manajemen yang kurang peka atau tanggap direvitalisasi; dan subordinasi mutlak diperbaiki menjadi kesetaraan.

Pola Baru Manajemen Pendidikan Kejuruan
Pola Lama Pola Baru
Subordinasi
Pengambilan keputusan terpusat
Ruang gerak kaku
Pendekatan birokratik
Sentralistik
Diatur
Over regulasi
Mengontrol
Mengarahkan
Menghindari resiko
Gunakan uang semuanya
Individual yang cerdas
Informasi terpribadi
Pendelegasian
Organisasi herarkis
Otonomi
Pengambilan keputusan partisipatif
Ruang gerak luwes
Pendekatan profesional
Desentralistik
Motivasi diri
Deregulasi
Mempengaruhi
Memfasilitasi
Mengelola resiko
Gunakan uang seefisiennya
Teamwork yang cerdas
Informasi terbagi
Pemberdayaan
Organisasi datar

OTONOMI SEKOLAH
Otonomi = kemandirian = swa (swakelola, swadana, swasembada, swakarya, swalayan, dsb). Kemandirian adalah sifat tak tergantung pada pihak lain. Menurut para ahli, kemandirian memiliki 5 komponen utama yaitu: (1) bebas, yakni tumbuhnya tindakan atas kehendak sendiri dan bukan karena pihak lain; (2) progresif dan ulet, seperti tampak pada usaha mengejar prestasi, penuh ketekunan, meren-canakan dan mewujudkan harapan-harapan-nya; (3) berinisiatif, yakni mampu berpikir dan bertindak secara asli/ orisinal/baru, kreatif dan

penuh inisiatif; (4) pengendalian dari dalam, yakni kemampuan mengendali-kan diri dari dalam, kemampuan mempengaruhi lingkungan atas pra-karsanya sendiri; dan (5) kemantapan diri, yang ditunjukkan oleh harga diri dan percaya diri. Jadi, sekolah mandiri artinya sekolah yang memiliki otonomi (kewenangan dan tanggungjawab) yang signifikan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam menyelenggarakan sekolah.
Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks Indonesia, kemandirian sekolah yang di-maksud haruslah tetap dalam bingkai/ koridor visi, misi, tujuan, norma, standar, prosedur, kriteria, dan kebijakan-kebijakan pendidikan nasional. Dalam arti yang hakiki, tidak ada kemandirian sekolah yang bersifat mutlak.
Otonomi manajemen sekolah dapat diartikan sebagai kemandirian pengelolaan urusan-urusan sekolah berdasarkan kemampuan, kebutuhan dan karakteristik yang dimiliki oleh sekolah tetapi tetap dalam sistem pendidikan nasional. Model ini disebut manajemen berbasis sekolah (MBS). Dalam MBS, sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang signifikan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri.

Kemandirian sekolah akan terwujud jika dua hal berikut memiliki tingkat kesiapan yang memadai yaitu kemampuan dan kesanggup-an. Kemampuan meliputi kemampuan sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, perbekalan, dsb.), manajemen, organisasi, kepemimpinan dan administrasi. Dalam konteks topik kita hari ini, kemampuan manajemen merupakan fokus perhatian (bukan berarti yang lain tidak penting). Kesanggupan sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang bersumber dari kebutuhan. Oleh karena itu, agar tercapai tingkat kesiapan kesanggupan yang memadai, perlu diupayakan pemenuhan kepentingan yang bersumber dari kebutuhan.

School Based Management
Site Based Management
School Based Initiatives
Self-Managing School
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Pengelolaan Berbasis Sekolah
Manajemen Berbasis Madrasah

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
KONSEP “MBS”
MBS adalah model pengelolaan sekolah berdasarkan kekhasan, kebolehan, kemampuan dan kebutuhan sekolah. Dengan batasan seperti ini, maka MBS menjamin adanya keberagaman dalam pengelolaan sekolah, tetapi harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Tidak ada lagi penekanan pada keseragaman dan dijamin adanya keberagaman. Dalam MBS, sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab lebih besar dalam menyelenggarakan urusan-urusan sekolah, misalnya (proses belajar mengajar, kurikulum, ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, dsb.) akan tetapi harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional (pusat).

Dua hal yang merupakan inti manajemen berbasis sekolah pada SMK yaitu fungsi manajemen dan substansi/ urusan SMK
FUNGSI – FUNGSI MANAJEMEN SMK
Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengkoordinasian
Pengevaluasian/Pengontrolan

URUSAN-URUSAN SMK
1. Urusan PBM (Pokok)
2. Urusan Kurikulum
3. Urusan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
4. Urusan Kesiswaan
5. Urusan Sarana dan Prasarana
6. Urusan Regulasi Sekolah
7. Urusan Keuangan dan Akuntansi
8. Urusan Administrasi
9. Urusan Penilaian
10. Urusan Hubungan SMK - DU/DI
11. Urusan Komite Sekolah
12. Urusan Pengembangan Kultur Sekolah
13. Urusan Kesekretariatan/Kearsipan

MATRIK MBS - SMK
Fungsi
Urusan
Golongan Faktor Untuk Setiap Urusan
URUSAN
SD
FM
Sdm
Sd-Slbh
R
O
P
K
Sdm - M
Sdm - S
Sdm - P
Pa
Pl
Pb
Bahan
E
Uang


Asumsi MBS pada SMK
Pembaruan yang direncanakan dan diimplementasikan secara terpusat sering tidak mampu memperbaiki inti kegiatan sekolah yaitu proses belajar mengajar;
SMK membutuhkan dukungan sumber-daya pendidikan yang ajeg dan konsisten, tetapi pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten tidak mampu memenuhinya;
Setiap SMK memiliki kekhasan, keunikan, kebolehan, kemampuan dan kebutuhan yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya;
SMK bukan sekedar subordinasi/ pelaksana program-program dari atas, akan tetapi mereka merupakan gardan terdepan yang harus diberdayakan dalam pengambilan keputusan, dan pengelolaan secara mandiri;
SMK paling tahu permasalahan dan kebutuhannya sendiri;
Pengambilan keputusan oleh SMK akan lebih sesuai dengan kepenting-annya

KARAKTERISTIK MBS
MBS yang ideal memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) fungsi-fungsi manajemen jelas, (2) urusan-urusan sekolah komprehensif, (3) pola manajemen sekolah yang desentralistik diterapkan, (4) tata kelola yang baik diterapkan, (5) pemantauan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilakukan secara cermat, dan (6) siklus pengembangan manajemen sekolah diterapkan.

TUJUAN MBS
Tujuan utama MBS adalah untuk meningkatkan kinerja sekolah secara optimal melalui penerapan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Kinerja sekolah meliputi kualitas, inovasi, efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum, keadilan, efektifitas, efisiensi, demokrasi profesionalisme, dan kepastian jaminan mutu.

PELAKSANAAN “MBS”
Setiap SMK-BI harus menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS/RKAS) sebagai bentuk jaminan mutu pendidikan, baik RPS/RKAS jangka menengah/renstra (5 tahun) maupun jangka pendek (1 tahun) dan RPS/RKAS disusun berdasar-kan kebutuhan dan kemampuan sekolah;
Menata kembali organisasi SMK-BI agar kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran, pelibatan warga sekolah dan masyarakat/DU/DI, dan terhindar dari jalan berliku untuk mengambil keputusan di tingkat sekolah;

SMK-BI melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program untuk memastikan kepatuhannya terhadap RPS/RKAS yang telah disusun;
SMK-BI melakukan koordinasi dan sinkronisasi unit-unit yang ada di sekolah dalam rangka membangun tim kerja yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah;
SMK-BI melakukan evaluasi pendidikan di sekolahnya secara komprehensif (input, proses, dan output) setelah melaksanakan MBS;
PRA & PASCA MPMBS ?

SEBELUM SESUDAH
Output
(NUN, olah raga, kesenian, dsb.)
Proses
(pembelajaran, bimbingan, dsb.)
Input
(guru, materi ajar, sarpras, dsb.)
Prinsip-prinsip MBS
Rencana Pengembangan Sekolah
(desain, pelaksanaan, hasil)

SMK-BI melakukan pengembangan kapasitas sekolah, baik kelembagaan maupun sumberdayanya (sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya) melalui berbagai cara: pelatihan, diskusi kelompok terfokus, lokakarya, dsb.
SMK-BI mempertegas pembagian urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota;
SMK-BI menerapkan tata kelola yang baik (partisipasi, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum, keadilan, efektifitas, efisiensi, profesionalisme, demokrasi, dsb.) sehingga menjadi SMK-BI yang dapat dipercaya oleh masyarakat

SMK-BI melakukan upaya-upaya sebagai berikut:
memperbanyak mitra sekolah (DU/DI khususnya) dan melibatkan mereka dalam penyelenggaraan sekolah;
merumuskan kembali ketentuan-ketentuan sekolah, peran unsur-unsur sekolah, kebiasaan, hubungan antar unsur sekolah;
mengklarifikasi fungsi-fungsi manajemen sekolah (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, dan peng-evaluasian);
meredistribusi kewenangan, tanggung-jawab, akuntabilitas, abilitas; dan
membangun tim pengembang sekolah yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah.

10. Kebijakan dan pengawasan pemerintah daerah mendukung prinsip-prinsip MBS dan tidak bertentangan dengan-nya khususnya dalam pengelolaan dana (catatan: MBS diberi keluwesan-keluwesan dalam mengembangkan daya kreasi, inovasi, dan eksperimen-tasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru sehingga memer-lukan keluwesan-keluwesan dalam pengelolaan dana, asal dapat dipertanggungjawabkan)

Menerapkan 9 kebiasaan perilaku orang tangguh: proaktif, mulailah dengan mengacu pada tujuan akhir, dahulukan yang utama (buat prioritas), berfikir menang-menang (saling menghidupi), mendengar baru didengar, bersinergi (kerjasama kreatif yang memberi nilai tambah), pembaruan secara terus menerus (pro-perubahan), berjiwa kewirausahaan, dan spirit baru untuk maju (lihat Stephen Covey, 2005)

Kepala SMK-BI harus mengetahui persis kebutuhan sekolahnya dan menanggapinya dengan hati nurani dan upaya yang sungguh-sungguh dengan menerapkan kemampuan dan keinginan yang besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut

SMK-BI merumuskan tujuan yang akan dicapai secara jelas, cari orang-orang yang memiliki kemampuan dan komitmen, tanamkan investasi pada mereka dan interaksikan serta koordinasikan mereka agar solid untuk mencapai tujuan
SMK-BI agar menerapkan manajemen mutu terpadu (perbaikan secara terus menerus, pelibatan secara total unsur-unsur sekolah dan berpusat pada pelayanan siswa)
SMK-BI segera mengembangkan kapasitasnya untuk mencapai 8 SNP dan standar-standar internasional

Warga SMK-BI agar belajar dari praktisi pendidikan yang sukses (kepala sekolah, guru, konselor, siswa, dsb.).

Kepala SMK-BI selalu menciptakan tantangan yaitu selisih antara apa yang diharapan oleh sekolah untuk peserta didik di masa depan (visi) dengan apa yang dicapai saat ini. Kepala SMK-BI menggunakan tantangan ini sebagai penggerak untuk memajukan sekolahnya

Kepala SMK-BI menciptakan peluang/kesempatan yang konstruktif dan kreatif bagi pengembangan sekolahnya. Dia akan selalu menciptakan peluang yang akan membawa sekolah sesedekat mungkin dengan pencapaian visi dan misinya

Kepala SMK-BI selalu membangun sekolah sebagai sistem dan menggerakkan warganya untuk membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah serta saling terkait, seperti layaknya orkestra atau gamelan

Kepala SMK-BI selalu mendorong bawahannya untuk mengambil resiko. Dia menciptakan kondisi/lingkungan yang mendorong bawahannya merasa enak untuk melakukan kreasi, inovasi, prakarsa, inisiatif, dan eksperimen-tasi, meskipun hasilnya salah dan diharapkan mereka belajar dari kesalahannya. Tempat kerja merupakan universitas terbaik kedua setelah perguruan tinggi.

Kepala SMK-BI menerapkan prinsip-prinsip “tut wuri handayani, ing madyo mangun karso, ing ngarso sung tulodo”. Dibelakang mendorong, ditengah mempengaruhi, dan di depan menjadi contoh. Dia memimpin melalui layanan yang baik dari pada melalui jabatan/posisinya.

Kepala SMK-BI selalu meng-gunakan informasi yang akurat untuk melakukan perubahan (inovasi, reformasi, revitalisasi, resistemisasi, restrukturisasi, rekon-figurasi, rekulturisasi, refigurisasi, atau apapun namanya)

Kepala SMK-BI mengarahkan dan membimbing warga sekolahnya untuk mencapai tujuan jangka panjang melalui penyusunan rencana induk pengembangan sekolah (RIPS), rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop). Mengarahkan pelaksanaan rencana operasional agar konsisten menuju renstra dan mengarahkan renstra agar konsisten menuju RIPS memerlukan kepala sekolah berketerampilan tinggi.

Kepala SMK-BI harus mampu memobilisasi sumberdaya atau aset yang ada dilingkungannya, baik aset intelektual, moral, finansial maupun material

Kepala SMK-BI menerapkan prinsip-prinsip negosiasi, menang-menang, dan egaliter dengan stakeholders dalam membangun sekolahnya

Kepala SMK-BI menerapkan strategi perubahan yang memang sesuai dengan turbulensi perubahan itu sendiri sehingga dia harus mutakhir dengan dinamika perubahan yang terjadi

Kepala SMK-BI selalu menjadikan bawahannya sebagai “learning person” dan menjadikan sekolahnya sebagai “learning organization” seraya tujuan sekolah dicapai dengan sukses
Catatan: Learning organization memiliki perilaku-perilaku seperti berikut: memberdayakan sumberdaya manusia seoptimal mungkin, memfasilitasi warganya untuk belajar terus dan belajar kembali, mendorong kemandirian setiap warganya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warganya, mendorong warganya untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, dan lincah), cepat tanggap terhadap pelanggan, mengajak warganya untuk menjadikan
sekolahnya sebagai institusi yang memfokuskan pada layanan pelanggan, mengajak warganya untuk siap dan nikmat terhadap perubahan, mengajak warganya untuk berpikir sistem, mengajak warganya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warganya untuk melakukan perbaikan secara terus menerus.

SMK-SBI harus memberikan bekal dasar untuk mengaktualkan potensi spiritual, intelektual, emosional dan pisikal peserta didik melalui perubahan-perubahan yang dirancang secara matang;

SMK-SBI memiliki sifat alamiah untuk menjadi tua, layu dan kering, jika tidak dijaga, dipelihara, disiram dan dikembangkan;

SMK-SBI merupakan pusat keunggulan dan pusat gravitasi dari SMK-SMK di sekitarnya sehingga SBI-SMK harus memiliki kelebihan;

SMK-SBI harus pro-perubahan yaitu yang mampu mengembangkan daya kreasi, inovasi, inisiasi, dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru;
Oleh karena itu, SMK-SBI jangan sampai tertambat pada tradisi dan kelumrahan masa lalu;

SMK-SBI harus memperbanyak bentuk-bentuk sinergi positif dengan pihak-pihak lain;



PBM SMK-BI jangan hanya mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, tetapi harus mengembangkan daya kreasi, inovasi dan eksperimentasi;
Untuk memacu kemajuan perlu ditumbuhkan persaingan tetapi perlu diimbangi dengan nilai solidaritas dengan model-model kegiatan kolektif (tim, gugus tugas, regu kerja, dsb.);

Perlu dikembangkan proses belajar mengajar yang bermatra individual-sosial-kultural agar sikap dan perilaku peserta didik sebagai makhluk individual tidak terlepas dari kaitan-nya dengan kehidupan masyarakat;
Perlu harmonisme proses pendidikan antara nilai-nilai religi (sebagai acuan makna hidup dan penangkal arus materialisme dan pragmatisme), solidaritas (kesetiakawanan), seni (syahdu, memperhalus dan memperkaya keindahan citarasa), ekonomi (materalisme), teori/iptek (untuk keenakan hidup), dan kuasa (politik).

Jaga keseimbangan
Keseimbangan tujuan pendidikan antara daya pikir, daya qolbu dan daya pisik;
Keseimbangan antara tujuan pribadi dan sosial
Keseimbangan antara kreativitas dan disiplin;
Keseimbangan antara persaingan & kerjasama;
Keseimbangan antara kemampuan berfikir holistik dan atomistik;
Keseimbangan antara berfikir deduktif dan induktif;
Keseimbangan antara tuntutan dan prakarsa

TUGAS DAN FUNGSI KEPALA SMK-BI
Mengarahkan sekolahnya melalui perumusan visi, misi, tujuan, kebijakan, rencana, dan program kerja yang jelas;
Membimbing atau memfasilitasi warga sekolahnya melalui pelatihan, lokakarya, pedoman kerja, petunjuk kerja, prosedur kerja, dsb.;
Mengatur sekolahnya melalui peraturan sekolah, tata tertib sekolah, ketentuan-ketentuan (kualifikasi, spesifikasi, dsb.); dan
Memantau pelaksanaan dan mengevaluasi hasil pendidikan di sekolahnya

Mengelola sekolah (fungsi manajemen dan substansi pendidikan) dengan menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik
Memimpin warga sekolah melalui pengarahan, yang jelas, pembimbingan, keteladanan, pemberdayaan, pembimbingan, pemotivasian, dsb.
Mengembangkan organisasi sekolah agar menjadi organisasi yang selalu mau belajar
Mengadministrasi sekolah dengan pengaturan dan pendayagunaan sumberdaya pendidikan
Mendorong warga sekolahnya untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan
Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan Kejuruan;
Memiliki informasi ketenagakerjaan (jenis, jumlah, tempat, waktu, dan persyaratan untuk memasukinya)
Memiliki kemampuan membangun jaringan/kerjasama nasional dan internasional, khususnya dengan DU/DI, PT, lembaga pelatihan, dsb.


KOMPETENSI KEPALA SMK-BI
Memahami Sekolah sebagai Sistem;
Memahami Manajemen Berbasis Sekolah;
Merencanakan Pengembangan Sekolah;
Mengelola Kurikulum;
Mengelola Pendidik dan Tenaga Kependidikan;
Mengelola Sarana dan Prasarana;
Mengelola Kesiswaan;
Mengelola Keuangan;
Mengelola Hubungan SMK dengan DU/DI;
Mengelola Kelembagaan;
Mengelola Sistem Informasi Sekolah;
Memimpin Sekolah;
Mengembangkan Budaya Sekolah;
Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas, Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan;
Mengembangkan Diri melalui CPD (continuous professional development);
Mengelola Waktu;
Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah;
Memberdayakan Sumberdaya Sekolah;
Melakukan Koordinasi/Penyerasian;
Mengambil Keputusan secara Terampil;
Melakukan Monitoring dan Evaluasi;
Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan);
Menyiapkan, Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi; dan
Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah;


ILMU-ILMU YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG KEPALA SMK-BI
Pendidikan Kejuruan ? Pemberdayaan siswa
Ketenagakerjaan ? Informasi ketenaga-kerjaan
Kebijakan ? Pengalokasian kepentingan (akses, mutu, relevansi, daya saing, dsb.)
Manajemen ? Pengembangan sistem
Organisasi ? Pengembangan wadah
Administrasi ? Pengaturan & pember-dayaan sumberdaya
Regulasi ? Aturan main
Kepemimpinan ? Pemberdayaan yang dipimpin
Komunikasi & Jejaring ? pengembangan kerjasama domestik & internasional, khususnya dengan lembaga-lembaga sertifikasi internasional dan DU/DI
Kreativitas & Inovasi ? pengembangan daya cipta (memikirkan sesuatu yang belum dipikirkan oleh orang lain/SMK lain)
Jiwa kewirausahaan ? nilai tambah
Wawasan regional & global ? tuntutan atau tantangan

TUPOKSI FASILITATOR “MBS”
-Memfasilitasi pelatihan MBS & RPS;
-Membimbing sekolah dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi rencana pengembangan sekolah (RPS)
-Memantau & membimbing pelaksanaan MBS dan RPS;
-Melaksanakan evaluasi pelaksanaan MBS & RPS;
-Membuat laporan hasil evaluasi MBS & RPS serta usulan perbaikannya;
-Memfasilitasi revisi MBS & RPS oleh sekolah; dan
-Memfasilitasi sekolah agar pro-perubahan (kreatif, inovatif, eksperimentatif, dsb.).
-Memfasilitasi pelaksanaan MBS yang meliputi perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengkoordinasian, dan evaluasi semua urusan sekolah
-Memfasilitasi implementasi inovasi-inovasi pendidikan, misalnya SNP (kompetensi lulusan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, proses, penilaian, sarpras, pengelolaan, pembiayaan), akreditasi, MBS, Komite Sekolah, PAKEM, CTL, KTSP, tata kelola sekolah yang baik, dan sertifikasi pendidik)
-Memantau proses dan mengevaluasi hasil penyelenggaraan pendidikan di sekolah;
-Memfasilitasi sekolah dalam melaksanakan Permendiknas 19/2007 tentang Pengelolaan Sekolah
-Membimbing/memfasilitasi sekolah dalam menyiapkan dan menindaklanjuti akreditasi sekolah

Read More...

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS)

0 comments

Oleh:
Prof. Slamet PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D
MEKANISME KEHIDUPAN YANG MUTLAK
Adanya keinginan yang didorong oleh kebutuhan (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan (akibat);
Ada tujuan pendidikan yang ingin dicapai (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapainya (akibat);
Upaya-upaya tersebut ditempuh secara sistem (utuh & benar), dengan catatan utuh dan benar menurut Hukum-Hukum Ketetapan-Nya

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
Mengembangkan kualitas dasar manusia (daya pikir, daya qolbu, dan daya pisik)
Mengembangkan kualitas instrumental yaitu penguasaan ilmu pengetahuan (mono-disiplin, multi-disiplin, antar-disiplin, dan lintas-disiplin), baik ilmu pengetahuan lunak maupun keras dan terapannya yaitu teknologi serta seni
Membangun jati diri bangsa Indonesia
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia

Kualitas Manusia
Kualitas Dasar
Kualitas Instrumental
Daya pikir
Daya qolbu
Daya pisik
Kualitas ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

KUALITAS DASAR MANUSIA
Berfikir Analitis
Berfikir Kritis
Berfikir Kreatif
Berfikir Deduktif
Berfikir Induktif
Berfikir Ilmiah
Berfikir Nalar
Berfikir Lateral
Berfikir Sistem



1.Daya Pikir
Iman & Takwa terhadap Tuhan YME
Rasa kasih sayang
Kesopanan
Toleransi
Kejujuran & kebersihan
Disiplin diri
Harga diri
Tanggung jawab
Respek thd. diri sendiri & orang lain

2.Daya Qolbu
Integritas
Keberanian moral
Kerajinan
Komitmen
Loyalitas
Seni /estetika
Kesehatan
Ketahanan
Kestaminaan
Keterampilan (kejuruan, olah raga, dsb.)

3.Daya Pisik (Kinestetika)
KUALITAS INSTRUMENTAL (DISIPLIN ILMU)
Disiplin Ilmu
Ilmu Keras:
Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Astronomi
Ilmu Lunak:
Sosiologi
Politik
Ekonomi
Psikologi
Antropologi
Seni
Dsb.
Teknologi:
Konstruksi
Manufaktur
Transportasi
Komunikasi
Bio
Energi
Bahan
Rekayasa Sosial:
Pemerintahan
Kebijakan
Manajemen
Tata Kelola
Kepemimpinan
Perpolitikan
Perekonomian
Dsb.

KUALITAS INSTRUMENTAL (SENI/ESTETIKA)
Seni musik
Seni suara
Seni tari
Seni kriya
Seni lukis
Seni yang lain?

MEMBANGUN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Memahami, menyadari, menjadikan hati nurani, mewajibkan hati nurani, mencintai dan bertindak nyata dalam mempertahankan dan mengembangkan jati diri bangsa Indonesia
Mampu menangkal manakala terjadi benturan antar nilai akibat globalisasi
Melestarikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia (preservatif) dan sekaligus terbuka terhadap gesekan dengan kemajuan negara lain (progresif)

MENJAGA KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERKEMBANGAN DUNIA
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia melalui wadah-wadah kolektif yang telah ada (PBB dan cabang-cabangnya)
Menjaga pembangunan dunia yang berkelanjutan dari perspektif sosio-budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup
Secara proaktif ikut menjaga perdamaian dan ketertiban dunia

UPAYA-UPAYA YANG HARUS DITEMPUH UNTUK MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN
Upaya-upaya untuk mencapai tujuan pendidikan ditempuh melalui pendekatan “sistem” (“utuh dan benar”)
Sekolah dapat dikategorikan seolah-olah sebagai “sistem” karena memenuhi kriteria sebagai sistem yaitu: (1) utuh dan benar, dan (2) ada tujuan yang ingin dicapai dan ada upaya-upaya untuk mencapainya

SEKOLAH SEBAGAI SISTEM
Secara visual, sekolah sebagai sistem dapat digambarkan sebagai berikut. Jika kita ingin menganalisis, kita mulai dari outcome, output, proses, input, dan berakhir pada konteks. Sebaiknya, jika kita ingin melakukan langkah - langkah pemecahan persoalan atau menyiapkan, maka arahnya terbalik, yaitu dimulai dari konteks, input, proses, output, dan berakhir pada outcome. Inilah cara berpikir sistem yang runtut.


Kualitas dan Inovasi
Efektifitas
Produktifitas
Efisiensi Internal
Efisiensi Eksternal

Konteks
1. Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan
2. Dukungan pemerintah & masyarakat
3. Kebijakan pemerintah.
4. Landasan hukum
5. Kemajuan ipteks
6. Nilai & harapan masyarakat
7. Tuntutan otonomi
8. Tuntutan globalisasi

Input
1. Kurikulum
2. Pendidik & Tenaga Kependidikan
3. Sarana & Prasana
4. Peserta didik
5. Dana
6. Regulasi
7. Organisasi
8. Administrasii
9. Peranserta masyarakat
10. Kultur sekolah

Komponen
Sub-komponen
Proses
1. Proses belajar mengajar
2. Penilaian
Output
1. Prestasi akademik
2. Prestasi non akademik
3. Angka mengulang
4. Angka putus sekolah
Outcome
1. Kesempatan pendidikan
2. Kesempatan kerja
3. Pengembangan diri lulusan
Catatan:
Manajemen sekolah berada pada seluruh komponen sekolah sebagai sistem, yaitu pada konteks, input, proses, output, outcome, dan dampak karena manajemen berurusan dengan sistem, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoor-dinasian hingga sampai pengontrolan/ pengevaluasian.
Kepemimpinan berada pada komponen manusia, baik pendidik dan tenaga kependidikan, maupun pada peserta didik, karena kepemimpinan berurusan dengan orang.


FUNGSI – FUNGSI MANAJEMEN
Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengkoordinasian
Pengevaluasian/Pengontrolan

URUSAN-URUSAN SEKOLAH
1. Urusan PBM (Pokok)
2. Urusan Kurikulum
3. Urusan Pendidik & Tenaga Kependidikan
4. Urusan Kesiswaan
5. Urusan Sarana dan Prasarana
6. Urusan Regulasi Sekolah
7. Urusan Keuangan dan Akuntansi
8. Urusan Administrasi
9. Urusan Penilaian
10. Urusan Humas/Komite Sekolah
11. Urusan Pengembangan Kultur Sekolah
12. Urusan Kesekretariatan dan Kearsipan
Matrik Manajemen Sekolah
Fungsi
Urusan
Golongan Faktor Untuk Setiap Urusan
URUSAN
SD
FM
Sdm
Sd-Slbh
R
O
P
K
Sdm - M
Sdm - S
Sdm - P
Pa
Pl
Pb
Bahan
E
Uang


RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS) MERUPAKAN BAGIAN INTEGRAL MANAJEMEN SEKOLAH
APA AKIBATNYA?
Jika sekolah tidak memiliki rencana, berarti penyelenggaraan sekolah mengandalkan pada kebetulan
Rencana itu mahal, tetapi jika tidak memiliki rencana, akibatnya lebih mahal
Jika salah merencanakan, berarti merencanakan kesalahan


PENTINGNYA RPS
RPS penting dimiliki untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka menuju perubahan atau tujuan sekolah yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan


ARTI PERENCANAAN SEKOLAH
Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia.
RPS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/ tujuan sekolah yang telah ditetapkan.


ISTILAH-ISTILAH PENTING
Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan;
Misi adalah rumusan umum mengenai tindakan (upaya-upaya) yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi;
Tujuan (baku) adalah rumusan mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu;
Sasaran/tujuan situasional adalah rumusan spesifik mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu dengan memper-hitungkan tantangan nyata yang dihadapi (sasaran merupakan jabaran tujuan);

Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi;
Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan;
Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah untuk mencapai tujuan.


TUJUAN RPS
RPS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; (3) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar pelaku sekolah, antarsekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota, dan antar waktu; (4) menjamin keterkaitan

dan konsistensi antara perencana-an, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (5) mengop-timalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat; dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumber-daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

SISTEM PERENCANAAN SEKOLAH (SPS)
SPS adalah satu kesatuan tata cara perencanaan sekolah untuk meng-hasilkan rencana-rencana sekolah (RPS) dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyeleng-gara sekolah dan masyarakat (diwakili oleh komite sekolah).

TUJUAN SISTEM PERENCANAAN SEKOLAH
Mendukung koordinasi antar pelaku pendidikan;
Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antara sekolah dengan dinas pendidikan, dinas pendidikan propinsi, dan pusat
Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan;
Mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

RPS JANGKA PANJANG, MENENGAH (STRATEGIS), DAN TAHUNAN
RPS Jangka Panjang adalah dokumen perencanaan sekolah untuk periode 20 (dua puluh) tahun;
RPS Jangka Menengah (Rencana Strategis) adalah dokumen perenca-naan sekolah untuk periode 5 (lima) tahun;
RPS Tahunan adalah dokumen perencanaan sekolah untuk periode 1 (satu) tahun.

JENIS PERENCANAAN SEKOLAH
Tergantung dari kepentingannya, jenis perencanaan sekolah meliputi:

Pemerataan Kesempatan
Persamaan kesempatan
Akses
Keadilan atau kewajaran

Contoh-contoh perencanaan pe-merataan kesempatan misalnya: bea siswa untuk siswa miskin, peningkatan angka melanjutkan, pengurangan angka putus sekolah, pengurangan bias jender, dsb.

2. Peningkatan Kualitas/Mutu
Kualitas/mutu sekolah meliputi input, proses, dan output, dengan catatan bahwa output sangat ditentukan oleh proses, dan proses sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input. Contoh-contoh perencanaan kualitas misalnya, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah, konselor, pustakawan, laboran, dsb.), pengembangan komite sekolah, rasio
(siswa/guru, siswa/kelas, siswa/ sekolah), pengembangan bahan ajar, pengembangan model pembelajaran (PAKEM, lessons study, pembelajaran dengan melakukan, pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif, dsb.), pengembangan komite sekolah, dsb., peningkatan mutu lulusan (NUN, NUS, olimpiade matematika, sains, biologi, karya ilmiah, karakter/ budipekerti, olah raga, kesenian, keagamaan, olah raga, keterampilan kejuruan, dsb.)

3. Peningkatan Efisiensi
Efisiensi merujuk pada hasil yang maksimal dengan biaya yang wajar. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal merujuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian prestasi belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memproses/ menghasilkan output sekolah.
Efisiensi eksternal merujuk kepada hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomik dan non-ekonomik) yang didapat setelah kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Contoh-contoh perencanaan peningkatan efisiensi misalnya: peningkatan angka kelulusan, rasio keluaran/masukan, angka kenaikan kelas/transisi, penurunan angka mengulang, angka putus sekolah, dan peningkatan angka kehadiran.

4. Peningkatan Relevansi
Relevansi merujuk kepada kesesuaian hasil pendidikan dengan kebutuhan (needs), baik kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, dan kebutuhan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan sub-sektor. Contoh-contoh perencanaan relevansi misalnya; program keterampilan kejuruan/ kewirausahaan/usaha kecil bagi siswa-siswa yang tidak melanjutkan, kurikulum muatan lokal, pendidikan kecakapan hidup khususnya untuk mencari nafkah, dsb.


PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPS
Penyusunan RPS menerapkan prinsip-prinsip: memperbaiki prestasi belajar siswa, membawa perubahan yang lebih baik (peningkatan/pengembangan), sistematis, terarah, terpadu (saling terkait & sepadan), menyeluruh, tanggap terhadap perubahan, demand driven (berdasarkan kebutuhan), partisipasi, keterwakilan, transparansi, data driven, realistik sesuai dengan hasil analisis SWOT, dan mendasarkan pada hasil review dan evaluasi.
Rencana Pengembangan
Pendidikan Nasional
Keterkaitan Antara Jenjang Perencanaan

Analisis Lingkungan Strategis
Situasi Pendidikan
saat ini
Situasi Pendidikan yang diharapkan
Rencana Strategis
(5 tahun)
Rencana Operasional
(1 tahun)
Pelaksanaan
Program
Monitoring &
Evaluasi


Gambar 1.
Proses Penyusunan RPS
Kesenjangan

PROSES PERENCANAAN STRATEGIS

Dimana kita sekarang ?
Kemana kita akan pergi ?
Bagaimana caranya mencapai kesana ?
Apakah kita sampai disana?
Analisis lingkungan eksternal
Analisis lingkungan internal
Profil Pendidikan:
Pemerataan & perluasan
Mutu & Relevansi
Managemen & governance
Isu-isu strategis pendidikan
Situasi pendidikan yang diharapkan
Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Program
Strategi pelaksanaan
Formulasi Strategi Pelaksanaan
Alokasi Sumberdaya
Saran/ Rekomendasi
Evaluasi
Pengumpulan & Pemaparan Data
Situasi pendidikan saat ini

Evaluasi & Kontrol
TAHAP-TAHAP PENYUSUNAN RPS

Membuat profil sekolah saat ini (apa adanya) baik input, proses, maupun outputnya
Memformulasikan profil sekolah yang diharapkan (idealnya) di masa depan, baik input, proses, maupun outputnya
Mencari selisih antara butir 1 & 2 untuk menemukan tantangan nyata yang dihadapi
Menyusun RPS berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi
Menyusun rencana pelaksanaan RPS
Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi
Rencana Strategis Sekolah
Situasi Sekolah
(tahun ini)
Situasi Sekolah
(5 tahun ke depan)
Strategi
(5Tahun)
Input
Proses
Output
Input
Proses
output
menuju

Rencana Strategis Sekolah
1. Analisis situasi pendidikan sekolah saat ini
Analisis situasi pendidikan sekolah yang diharapkan 5 tahun kedepan (visi, misi, dan tujuan yang mencakup pemerataan, mutu, relevansi, efisiensi, kapasitas)
Kesenjangan antara situasi pendidikan sekolah saat ini dan yang diharapkan 5 tahun kedepan (tantangan nyata yang dihadapi 5 tahun kedepan)
Kebijakan dan program-program strategis untuk mencapai situasi pendidikan sekolah yang diharapkan 5 tahun kedepan
Rencana strategi pelaksanaan
Tonggak-tonggak kunci keberhasilan (Milestone)
Rencana biaya (besar, alokasi, dan sumber dana)
Rencana pemantauan dan evaluasi

Rencana Tahunan Sekolah
Situasi Sekolah
(tahun ini)
Situasi Sekolah
(tahun depan)
Program
(1Tahun)
Input
Proses
Output
Input
Proses
Output

menuju

Format Rencana Tahunan Sekolah (Alternatif I)
1. Analisis situasi pendidikan sekolah tahun ini
2. Analisis situasi pendidikan sekolah tahun depan (yang diharapkan)
Kesenjangan antara pendidikan sekolah tahun ini dan pendidikan tahun depan (tantangan)
Program-program untuk mengurangi kesenjangan atau untuk menghadapi tantangan/loncatan
Tonggak-tonggak kunci keberhasilan
Rencana biaya (besar dana, alokasi, sumber dana)
Rencana pelaksanaan program
Rencana pemantauan dan evaluasi
Jadwal pelaksanaan program
Penanggungjawab program/kegiatan

FORMAT RENCANA TAHUNAN SEKOLAH (ALTERNATIF II: SWOT)
Analisis situasi pendidikan sekolah tahun ini
Analisis situasi pendidikan sekolah tahun depan (yang diharapkan)
Kesenjangan antara situasi pendidikan sekolah tahun ini dan tahun depan (tantangan/loncatan)
Tujuan tahunan/sasaran berdasarkan hasil kesenjangan/ tantangan
Urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai setiap sasaran dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya
Analisis SWOT (mengenali tingkat kesiapan masing-masing urusan sekolah melalui analisis SWOT)

Langkah-langkah pemecahan persoalan, yaitu mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan urusan sekolah.
Rencana dan program sekolah berdasarkan hasil langkah-langkah pemecahan persoalan
Tonggak-tonggak kunci keberhasilan (milestones)
Rencana biaya (besar, alokasi, dan sumber dana)
Rencana pelaksanaan program
Rencana pemantauan dan evaluasi
Jadwal pelaksanaan program
Penanggungjawab program/kegiatan


ANALISIS ‘ SWOT ’
KRITERIA PERENCANAAN PENDIDIKAN
KABUPATEN/KOTA


KRITERIA RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS)

KRITERIA PERENCANAAN PENDIDIKAN
KABUPATEN/KOTA


KRITERIA RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (LANJUTAN)


Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan Sekolah
KELOMPOK KERJA (KK) - RPS
KK – RPS terdiri dari unsur-unsur: Kepala Sekolah & Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, Wali Kelas, Komite Sekolah, dan Masyarakat;
KK - RPS dalam menyuarakan pemikirannya mendasarkan pada aspirasi konstituannya; dan
Harus jelas pembagian tugas & fungsi masing-masing unsur dan interaksinya satu sama lain.

Anggota
(Unsur Komite
Sekolah)
Anggota
(Unsur Wali
Murid)
Anggota
(Unsur
Masyarakat)
Anggota
(Unsur Kepala
Sekolah)
Anggota
(Unsur Guru)

Kelompok Kerja
Rencana Pengembangan Sekolah

(KK-RPS)

Perbaikan Secara Terus Menerus
Rencana
(RPS)
Implementasi
Evaluasi
Refleksi & Revisi

Read More...

Metodologi Penelitian Pendidikan (SMK)

1 comments

Oleh:
Prof. Slamet PH. MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D.

METODOLOGI PENELITIAN
THEORY-RESEARCH-Theory-Propositions-Constructs-Concepts-Sensations-Conceptual Framework-Hypotheses-Variables-Items-Raw Data-abstract-concrete

METODE ILMIAH
PENELITIAN ILMIAH
MASALAH
PENYUSUNAN KERANGKA BERFIKIR
HIPOTESIS
PENGUJIAN
HIPOTESIS
KESIMPULAN

METODOLOGI PENELITIAN
PENDAHULUAN
Latar belakang masalah
Identifikasi masalah
Pembatasan masalah
Perumusan masalah
Manfaat Penelitian

KAJIAN LITERATUR/PUSTAKA
Pengkajian teori yang dipergunakan
Pembahasan penelitian yang relevan
Penyusunan kerangka berfikir dalam pengkajian hipotesis (dengan menyatakan postelat asosiasi dan prinsip sekiranya ada)
Perumusan hipotesis

METODOLOGI PENELITIAN
Tempat/waktu penelitian
Populasi dan Sampel
Metode Penelitian
Instrumen Penelitian
Teknik pengumpulan data
Teknik analisis data

HASIL PENELITIAN
Deskripsi Data
Pengujian persyaratan analisis
Pengujian hipotesis
Penafsiran
Kesimpulan pengujian hipotesis
Pembahasan Hasil Penelitian

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
Kesimpulan
Implikasi
Saran/Rekomendasi

Tahap-Tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian: (1) memilih judul penelitian, (2) merumuskan masalah penelitian, (3) memilih metode penelitian (survei, korelasi, eksperimen, ex post facto, dsb.), (4) merancang/mendisain penelitian, (5) mengumpulkan data, (6) menganalisis data, (7) menguji hipotesis (kalau ada) dan menarik kesimpulan, dan (8) menulis laporan penelitian

Akan dibahas:
Arti penelitian
Pentingnya penelitian
Tujuan penelitian
Karakterisik penelitian
Cara-cara melakukan penelitian
Tantangan penelitian
Sumber–sumber bacaan utama

ARTI PENELITIAN
Penelitian adalah proses ilmiah untuk menemukan sesuatu yang baru/asli yang dilakukan secara terencana dan sistematis mulai dari persiapan, penyusunan rancangan/ disain, pengumpulan data, analisis data dan penafsirannya. Sesuatu yang baru bisa berupa cara, metoda, bahan, model, dsb.

PENTINGNYA PENELITIAN
Penelitian penting dilakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (keras dan lunak) dan teknologi serta untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh negara dan masyarakat. Permasalahan negara: sosial, ekonomi, energi, politik, budaya, pendidikan, dsb. Permasalahan masyarakat: flue burung, banjir, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, kesenjangan, dsb.

TUJUAN PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi baru/asli dan bukan replikasi, untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan negara. Seiring dengan itu, penelitian ditujukan untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol fenomena.

Disiplin Ilmu
Ilmu Keras:
Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Astronomi

Ilmu Lunak:
Sosiologi
Politik
Ekonomi
Psikologi
Antropologi
Dsb.

Teknologi:
Konstruksi
Manufaktur
Transportasi
Komunikasi
Bio
Energi
Bahan

Rekayasa Sosial:
Pemerintahan
Kebijakan
Manajemen
Tata Kelola
Kepemimpinan
Perpolitikan
Perekonomian
Dsb.

KARAKTERISTIK PENELITIAN
Obyektivitas
Kejujuran
Presisi
Verifikasi
Penjelasan parsimonis
Empiris
Alasan logis
Berfikir probabilistik

SUMBER PENGETAHUAN
Tradisi
Pengalaman
Otoritas
Alasan induktif
Alasan deduktif

Metode ilmiah

KLASIFIKASI PENELITIAN
Klasifikasi penelitian menurut tujuan:
Penelitian dasar (pengembangan atau penghalusan teori) dan terapan (aplikasi teori) untuk memecahkan permasalahan;
Penelitian evaluatif;
Penelitian dan pengembangan
Penelitian tindakan

KLASIFIKASI PENELITIAN MENURUT METODE
Penelitian sejarah
Penelitian diskriptif/survei
Penelitian studi kasus
Penelitian korelasional
Penelitian causal-comparative/ ex post facto
Penelitian eksperimen


METODE PENELITIAN
Metode Survei: mencari informasi secara luas
Metode korelatif: mencari keterkaitn antara variabel satu dengan variabel yang lain
Metode eksperimen: variabel bebas dan variabel terikat
Metode ex post facto: variabel terikat diketahui, lalu menelusuri variabel bebas
Metode sejarah: mengungkap informasi di masa lalu
Metode kualitatif (studi kasus, multi-kasus)

PERMASALAHAN PENELITIAN (RESEARCH PROBLEMS)
Penelitian itu pada dasarnya adalah untuk menjawab permasalahan penelitian yang telah dirumuskan
Oleh karena itu mengiidentifikasi, memilih dan merumuskan permasalahan penelitian merupakan langkah pertama dan utama

Permasalahan penelitian adalah kesenjangan antara kondisi nyata dan kondisi idaman yang perlu diupayakan untuk mengubah kondisi nyata menjadi kondisi yang diidamkan

MEMILIH PERMASALAHAN PENELITIAN
Setelah mengidentifikasi wilayah per- masalahan penelitian yang diminati untuk diteliti (misalnya kurikulum, guru, sarpras, proses belajar mengajar, manajemen sekolah, dsb.), maka langkah berikutnya adalah memilih masalah yang akan diteliti dan kemudian dirumuskan

Sumber-sumber permasalahan penelitian dapat digali dari teori-teori, pengalaman, pengamatan, rekomendasi dari penelitian-penelitian, dan wawancara dengan para pratisi pendidikan

Sumber-sumber masalah penelitian umumnya berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat (krisis moral, motivasi belajar rendah, lemah cara berfikir, kompetensi guru, dsb.), negara (rendahnya prestasi UN, olimpiade internasional, bela negara, dsb.) dan ilmu pengetahuan (teori proses belajar mengajar, teori kurikulum, teori evaluasi, dsb.)

KARAKTERISTIK MASALAH PENELITIAN YANG BAIK
Rumusan masalah dapat diteliti melalui pengumpulan data dan analisis data
Rumusan masalah mempunyai signifikansi/manfaat teoritis/praktis, solusinya dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh negara dan masyarakat (perbaikan akses, pemerataan, mutu, dan tata kelola pendidikan
Dapat dijangkau oleh kemampuan peneliti (kemampuan intelektual, dana, waktu, dsb.)

PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah penelitian yang baik umumnya menunjukkan variable-variabel yang akan diteliti dan hubungan-hubungan antar variabel yang akan diteliti
Variabel-variabel yang diteliti relevan satu dengan yang lain
Permasalahan penelitian memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan ilmu, pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan negara

CONTOH RUMUSAN MASALAH PENELITIAN PENDIDIKAN
Seperti apa profil budi pekerti peserta didik SMK se DIY? (variabel tunggal)
Adakah perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang diajar dengan pendekatan PAKEM dan CTL? (variabel majemuk)
Adakah korelasi yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar? (variabel ganda)

VARIABEL PENELITIAN
Jenis variabel: variabel yg bisa dimanipulasi/ direkayasa; variabel pemberian (given); variabel bebas dan variabel terikat; varibel descrete vs continuous

KAJIAN PUSTAKA (PENYUSUNAN KERANGKA BERPIKIR)
Pengkajian pustaka yang terkait dengan penelitian yang sedang dilakukan melibatkan identifikasi, lokasi dan analisis dokumen-dokumen yang berisi informasi yang terkait dengan masalah penelitian yang akan dijawab
Dokumen-dokumen yang dimaksud meliputi jurnal ilmiah, majalah ilmiah, abstrak, buku, laporan penelitian, disertasi, dll.

Tujuan utama pengkajian pustaka adalah untuk menentukan apa yang telah dilakukan (diteliti) selama ini dan yang perlu dilakukan
Kajian pustaka tidak hanya untuk menghindari duplikasi nyang tak sengaja, tetapi juga memberikan pemahaman dan pencerahan yang diperlukan untuk pengembangan kerangka kerja yang logis
Penelitian yang telah dilakukan akan memberikan rasional untuk hipotesis penelitian anda
Kajian pustaka juga memberitahu metodologi penelitian yang digunakan dan instrumen penelitian yang digunakan

HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis (hipo=setengah; tesis = kebenaran) adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang telah dirumuskan. Dikatakan jawaban sementara karena jawaban tersebut baru didasarkan atas kajian pustaka dan yang masih harus dibuktikan kebenarannya melalui pengum-pulan data dan kemudian dianalisis, yang akan membuktikan apakah hipotesis yang telah dirumuskan itu diterima atau ditolak (yang disebut pengujian hipotesis).
Ada dua jenis hipotesis, yaitu Ho (hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan, tidak ada korelasi,dsb.); Ha (hipotesis alternatif yang menyatakan ada perbedaan, ada korelasi, dsb.). Jika Ho diterima, maka Ha ditolak. Jika Ho ditolak, maka Ha diterima.
Hipotesis dirumuskan setelah mengkaji pustaka dan sebelum melaksanakan penelitian (mengumpulkan data dan menganalisisnya). Jadi, logikanya, hipotesis didasarkan atas implikasi dari teori-teori dan penelitian-penelitian sebelumnya.

CONTOH CARA MENULIS HIPOTESIS
Ho: Tidak ada korelasi antara prestasi belajar mata pelajaran Mekanika Teknik dan mata pelajaran Konstruksi Beton Bertulang pada siswa kelas 3 SMKN 1 Jogjakarta. Sedang Ha (hipotesis alternatif): ada korelasi yang signifikan antara prestasi belajar mata pelajaran Mekanika Teknik dan mata pelajaran Konstruksi Beton Bertulang pada siswa kelas 3 SMKN 1 Jogjakarta.
Ho: tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa kelas 2 SMKN 1 Jogjakarta yang diajar dengan CTL dan e-learning. Ha: ada perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa kelas 2 SMKN 1 Jogjakarta yang diajar dengan CTL dan e-learning.

METODOLOGI PENELITIAN
Untuk menjawab apakah hipotesis yang telah dirumuskan diterima atau ditolak, maka perlu melakukan pengumpulan data dari lapangan dan kemudian menganalisisnya. Mulai dari pengumpulan data hingga sampai analisis data dengan menggunakan metodologi penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan ketepatan-nya, yang meliputi: tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, metode penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

A. Metode Penelitian (beberapa saja)
Metode penelitian survei
Metode penelitian korelasi
Metode penelitian eksperimen
Metode penelitian ex post facto
Metode penelitian kasus
Metode penelitian sejarah
Metode penelitian filsafat

B. Tempat dan Waktu Penelitian
Sebutkan tempat (dimana) penelitian dilaksanakan (di SMK, di Dinas Pendidikan Kabupaten, di Industri, dsb.)
Sebutkan berapa lama penelitian dilaksanakan (kapan penelitian dimulai dan kapan penelitian berakhir (bulan apa dan tahun berapa)

C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah kelompok (grup) yang memiliki kesamaan karakteristik misal-nya: guru SMK jurusan bangunan, siswa SMK jurusan bangunan, sarana dan prasarana SMK jurusan bangunan, dsb. kepadanya si peneliti ingin menggenerali-sasi hasil penelitiannya.
Sampel (cuplikan/contoh) adalah bagian dari populasi. Penelitian selalu dilakukan terhadap sampel dan jika dilakukan terhadap populasi, namanya sensus dan ini tidak perlu hipotesis.
Metode Pemilihan Sampel
Random sampling
Stratified sampling
Cluster sampling
Systematic sampling.

Untuk memperoleh sampel yang benar-benar menggambarkan populasi (mewakili populasi) harus menggunakan cara yang disebut sampling. Jadi, sampling adalah suatu cara (proses) memilih sejumlah individu (sampel) untuk diteliti sedemikian rupa sehingga individu-individu yang terpilih sebagai sampel benar-benar mewakili populasi dimana hasil penelitian akan digeneralisasi kepadanya. Jadi, sampel harus merepresentasikan populasinya. Ada beberapa metode pemilihan sampel a.l. random sampling, stratified sampling, cluster sampling, and systematic sampling.

Menentukan Ukuran/Jumlah Sampel
Ukuran sampel diambil sesebesar mungkin; makin besar ukuran/jumlah sampel, makin mewakili populasi dan makin dapat digeneralisasi hasil penelitiannya
Jika ukuran/jumlah populasi tidak lebih dari 2000, jumlah sampel dihitung dengan diagram Harry King
Untuk penelitian korelasi, jumlah sampel minimum 30 subyek per kelompok; untuk causal comparative/ex post facto 30 subyek per kelompok; untuk eksperimen15 subyek per kelompok;

D. Metode Pengumpulan Data
Kuesioner/angket
Wawancara mendalam
Dokumentasi
Pengamatan/observasi
Tes

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang valid (sahih) dan reliable (dapat dipercaya/konsisten) untuk mengumpulkan data sangat diperlukan jika anda ingin menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian
Persyaratan instrumen penelitian: validitas dan reliabilitas
Validitas: validitas isi, validitas konstruk, validitas konkuren, dan validitas prediktif
Reliabilitas: reliabilitas tes-retes, reliabilitas bentuk ekuivalen, reliabilitas pisah separoh, reliabilitas ekuivalen rasional, reliabilitas inter-rater/penskor, koefisien reliabilitas.

Jenis Tes
Tes pencapaian/prestasi
Tes karakter/kepribadian (sikap, motivasi, minat, dsb).
Tes potensi/kemampuan (tes kemampuan umum, tes kemampuan khusus, tes kesiapan)

F. Metode Analisis Data
Pra-analisis
Analisis Diskriptif (Statistik Diskriptif)
Analisis Inferensial (Statistik Inferensial)
Pra-Analisis
Penskoring
Pentabulasian
Skala pengukuran (nominal, ordinal, interval, rasio)
Analisis Diskriptif (Statistik Diskriptif)
Penggrapikan data
Pengukuran tendensi sentral (mean, median, mode)
Pengukuran variabilitas (range, kuartil, desil, standar deviasi, kurve normal)
Pengukuran hubungan/korelasi (rank correlation, product mone correlation, dsb.)

Analisis Inferensial
Deskripsi data
Uji persyaratan analisis data (linearitas untuk analisis korelasi, homoginitas untuk perbedaan/analisis varians
Uji/Pembuktian hipotesis (membandingkan hasil hitungan dengan tabel)
Kesimpulan


PROPOSAL/LAPORAN PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang
Identifikasi Masalah
Pembatasan Masalah
Perumusan Masalah
Manfaat/Kegunaan Hasil Penelitian
Definisi Istilah (Variabel penelitian)
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR
Kajian Teori yang Digunakan
Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
Kerangka Berfikir dan Perumusan Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Populasi dan Sampel/Contoh/Cuplikan
Metode Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Instrumen Penelitian
Metode Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN (INI JIKA LAPORAN PENELITIAN)
Diskripsi Data
Pengujian persyaratan analisis
Pengujian hipotesis
Penafsiran
Kesimpulan pengujian hipotesis
Pembahasan Hasil Penelitian


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Implikasi
Saran/Rekomnendasi
TANTANGAN PENELITIAN
Mencari masalah penelitian yang sebenarnya (the real research problems);
Penguasaan paradigma, pendekatan, dan metodologi penelitian;
Pemanfaatan hasil penelitian; dan
Keterbatasan dana penelitian

Read More...

6.04.2010

Defenisi Kurikulum

0 comments

1 sebagai subjek

should consist of permanent studies-the rules of grammar, reading, rhetoric and logic, mathematics and, at the secondary level, the greatest books of the western world (Robert Hutchins)

harus terdiri dari studi-permanen aturan tata bahasa, membaca, retorika dan logika, matematika dan, pada tingkat menengah, buku-buku terbesar dunia barat (Robert Hutchins)

=
Should consist entirely knowledge that concern from the disciplines (Philip Phenix)
Is a written document (George Beauchamp)


Harus terdiri sepenuhnya pengetahuan bahwa perhatian dari disiplin ilmu (Philip Phenix)
Adalah dokumen tertulis (George Beauchamp)
===========

2 as a plan
2 sebagai rencana

A curriculum:
Is a plan for learning (Hilda taba)
Is a plan for what is to be taught and is compose of what is to be taught, to whom, when, and how (John Mcneil)
Is a planned program of learning opportunities to achieve broad educational goals and related objectives (William Alexander)

Kurikulum:
Apakah rencana pembelajaran (Hilda Taba)
Apakah rencana untuk apa yang akan diajarkan dan menulis tentang apa yang akan diajarkan, kepada siapa, kapan, dan bagaimana (John McNeil)
Apakah program yang direncanakan kesempatan belajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang luas dan tujuan yang terkait (William Alexander)

===================\
3 as an experience
3 sebagai sebuah pengalaman

A curriculum is:
Those experiences set up by the school for the purpose of disciplining students and youth in group ways of thinking and acting (B.O Smith, William Stanley, & Harlan Shores)
Is composed of all experiences children have under the guidance of teachers (Hollis Caswell & Doak Campbell)

Kurikulum adalah:
Pengalaman-pengalaman yang telah diatur oleh sekolah untuk tujuan mendisiplinkan mahasiswa dan pemuda di kelompok cara berpikir dan bertindak (BO Smith, William Stanley, & Harlan Shores)
Terdiri dari semua pengalaman anak-anak di bawah bimbingan guru (Hollis Caswell & Campbell Doak)
=========================
4 as an outcome
4 sebagai suatu hasil

A Curriculum is:
- A planned learning outcome for which the school is responsible (James Pophan & Henry Baker)
- Curriculum is concerned not with what students will do in the learning situation, but with what they will learn as a consequence of what they do. Curriculum is concerned with results (Maurice Johnson)

Kurikulum adalah:
- Sebuah hasil pembelajaran yang direncanakan sekolah bertanggung jawab (James Pophan & Henry Baker)
- Kurikulum yang bersangkutan tidak dengan apa yang akan dilakukan siswa dalam situasi belajar, tetapi dengan apa yang mereka akan belajar sebagai konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Kurikulum berkaitan dengan hasil (Maurice Johnson)

==============


Read More...

Pengembangan Kurikulum

0 comments

A. Tugas Pertemuan ke-8
1. Terjemahkan defenisi kurikulum yang berbahasa inggris ke bahasa indonesia
Defenisi Kurikulum:
a. Kurikulum sebagai subjek
Kurikulum harus terdiri dari pembelajaran kekal, yang mempunyai aturan tata bahasa, membaca, retorika dan logika, matematika, pada tingkat menengah. Buku besar dunia barat (Robert Hutchins)

Kurikulum terdiri dari pengetahuan, yang berdasarkan dari disiplin ilmu tersebut.(Philip Phenix)

Kurikulum adalah sebuah dokumen tertulis. (George Beauchamp)

b. Kurikulum sebagai rencana
1) Kurikulum adalah sebuah rencana pembelajaran (Hilda Taba)
2) Kurikulum adalah sebuah rencana untuk apa yang akan diajarkan, dan menulis tentang apa yang akan diajarkan, kepada siapa, kapan, dan bagaimana. (John Mcnaill)
3) Kurikulum adalah sebuah program yang direncanakan, kesempatan belajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang luas, dan tujuan yang terkait. (William Alexander)

c. Kurikulum sebagai sebuah pengalaman
Kurikulum adalah pengalaman-pengalaman yang telah diatur oleh sekolah untuk tujuan mendisiplinkan murid dan peserta didik supaya berpikir dan bertindak. (B.O Smith, William Stanley, & Harlan Shores)

Kurikulum terdiri dari kumpulan pengalaman peserta didik dibawah bimbingan guru. (Hollis Caswell & Doak Campbell)

d. Kurikulum sebagai hasil
Kurikulum adalah:
1) Sebuah hasil pembelajaran yang direncanakan sekolah yg bertanggung jawab (James Pophan & Henry Baker)
2) Kurikulum berfokus tidak dengan apa yang akan dilakukan siswa dalam situasi belajar, tetapi dengan apa yang mereka pelajari sebagai konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Kurikulum berkaitan dengan hasil (Maurice Johnson)
2. Defenisi kurikulum yang saya pilih adalah kurikulum sebagai rencana, karena sebuah kurikulum dapat memberikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga mampu memberikan hasil pembelajaran yang terstruktur.

B. Tugas Pertemuan ke-9
1. kelebihan dan kelemahan model masing-masing berdasarkan beberapa buku atau referensi yang Anda baca

Menurut buku “Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan” 2008. BP. Putra Bhakti Mandiri. Jakarta
No Model Kelebihan Kelemahan
1 Model Behavioral (Tyler)  Bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum, sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan.

 Dalam mengembangkan kurikulum, berhubungan dengan :
1. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
2. Pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
3. Pengorganisasian pengalaman belajar
4. Evaluasi  Model ini tidak menguraikan pengembangan kurikulum dalam bentuk langkah langkah konkrit atau tahapan-tahapan secara rinci.
 Hanya memberikan dasar-dasar pengembangannya saja
2 Model Manajerial  Lebih menitikberatkan bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan
 Dikembangkan secara terbalik, yaitu dengan pendekatan induktif  Model ini dikembangkan dengan tahapan-tahapan yang dilakukan oleh para pengembang kurikulum



3 Model Humanistik  Bersifat simpel, komprehensif, dan sistematik
 Pengembangan jenis ini menjelaskan bahwa antara kurikulum , mengajar, pembelajaran dan pengajaran merupakan hubungan yang saling berinteraksi.  Pengembangan yang hanya memperhatikan hubungan tidak bertahap dan tidak menjelaskan secara detail tentang konsep pengembangan.
4 Model Nontechnical  Model ini lebih mengedepankan tentang pemikiran yang naturalistik dan konservasi terhadap sumber daya manusia.  Pengembangan yang mempunyai konsep minimal, dengan tujuan yang dicapai belum terdefenisi.


Read More...

Uraian Psikologi pendidikan

0 comments

Definisi
Lefrancois (1972:129) menyatakan bahwa pembelajaran atau instruction : as the arrangement of the learning situation in such a way that learning is facilitated. Selanjutnya Gagne melihat dua hal penting tentang arrangement of the learning situation yaitu yang melibatkan management of learning dan yang melibatkan condition of learning

 pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Pembelajaran berarti partisipasi pendidik bersama peserta didik dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi sasaran utama dalam pembelajaran adalah membuat peserta dapat belajar aktif

Langkah-langkah Pembelajaran

 Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi ?
 Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok ?,
 Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi fisik sebelum secara verbal ?.

Langkah dua : memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tertentu
 apakah aktivitas itu memberi kesempatan untuk melaksanakan metode eksperimen ?.
 dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa ?.
 dapatkah siswa membandingkan berbagai cara bernalar dalam mengikuti kegiatan di kelas ?.
 apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?.
 apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?.


Langkah tiga : mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah ? Bimbingan prtanyaan berupa :

 pertanyaan lanjut yang memancing berfikir seperti “bagaimana jika “ ?.
 memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan ?.

Langkah empat : menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan seperti :

• segi kegiatan apakah yang mengahsilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar ?.
• segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya ?.
• apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari ?.
• apakah kegiatan itu dapat dijadikan modal untuk pembelajaran lebih lanjut ?.

Prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran
 Perhatian dan motivasi
 Keaktifan
 Keterlibatan langsung (berpengalaman)
 Pengulangan
 Tantangan
 Balikan dan Penguatan
 Perbedaan Individual.

Perhatian

 Metode penyampaian yang bervariasi, tidak monoton
 Penggunaan media yang sesuai dengan tujuan belajar
 Penggunaan gaya bahasa yang segar
 Mengemukakan pertanyaan- pertanyaan

Motivasi
 Memilih contoh-contoh yang relevan dengan siswa
 Menghargai pendapat siswa
 Menghindari komentar negatif kepada siswa
 Menempatkan siswa sebagai subjek yang memiliki potensi
 Memberikan hadiah kepada siswa yang menunjukkan prestasi
 Memberi tahukan hasil nilai ulangan kepada siswa sesegera mungkin.

Keaktifan

 Merespon secara positif semua pertanyaan siswa
 Memberikan tugas-tugas secara individual maupun kelompok
Mendiskusikan bersama hasil dari tugas-tugas tersebut
 Membuka kesempatan untuk bertanya kepada para siswa


Keterlibatan langsung / mengalami
 melibatkan secara langsung siswa baik secara individual maupun kelompok
 menciptakan peluang yang mendorong siswa untuk melakukan eksperimen
 mengikutsertakan siswa atau memberi tugas kepada siswa untuk memperoleh informasi dari sumber luar kelas atau sekolah.
 Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan pesan pembelajaran.


Pengulangan

 merancang pelaksanaan pengulangan
 mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan
 mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang
 mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan
 merancang kegiatan pengulangan yang bervariasi.

Tantangan
 merancang kegiatan eksperimen bagi siswa yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok
 memberikan tugas pemecahan masalah yang membutuhkan informasi yang harus dicari sumbernya baik dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
 Mengembangkan bahan pembelajaran yang memancing siswa untuk melakukan pengayaan dan penelusuran lebih lanjut.
 Menciptakan situasi yang merangsang siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip-prinsip generalisasi sendiri.

Balikan dan Penguatan

 Memberikan komentar positif dan mendiskusikan jawaban-jawaban siswa
 Mengembalikan hasil pekerjaan siswa dengan berbagai catatan penting
 Memberikan hadiah / respon positif kepada siswa yang menunjukkan prestasi

Perbedaan Individual
 Menggunakan berbagai metode pembelajaran guna melayani kebutuhan siswa sesuai dengan karakternya
 Memanfaatkan berbagai media dalam menyajikan pembelajaran
 Mengenali karakteristik setiap siswa , sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan
 Memberikan kesempatan remidiasi ataupun pengayaan kepada siswa yang membutuhkan.

Metode Pembelajaran

 Metode Ceramah
 Metode Tanya Jawab
 Metode Diskusi
 Metode Kerja Kelompok
 Metode Simulasi
 Metode Demonstrasi
 Metode Tugas

Pendekatan Pembelajaran
 Pengorganisasian Siswa
 a. Pembelajaran secara Individual
 b. Pembelajaran secara Kelompok
 c. Pembelajaran secara Klasikal
 Posisi Guru Siswa dalam Pengolahan Pesan
 a. Strategi Ekspository
 b. Strategi Inkuiri (Inquiry) & Discovery

KEPRIBADIAN
Pokok Bahasan 12
Batasan kepribadian
(menurut Allport)
 Watak dan kepribadian adalah sama, tapi dapat berbeda.
 Watak digunakan untuk memberi penilaian tentang perangai dan perbuatan manusia berdasarkan norma-norma masyarakat.
 Kepribadian lebih cenderung memberikan gambaran apa adanya.
 Kepribadian merupakan organisasi yang dinamis yang ada pada individu, dimana terdapat beberapa sistem psikophisical yang menentukan perilaku dan berpikir individu.
Batasan kepribadian menurut Allport dapat diterangkan sbb:
 Organisasi dinamis  keyakinan terdiri dari perilaku dan pikiran yang diterima individu sbg pola yang berkaitan untuk mencapai tujuan. Dinamis berarti kepribadian itu selalu terbuka untuk berubah sebagai akibat pengalaman-pengalaman baru dan tujuan-tujuan baru.
 Psiko-fisik  kepribadian merupakan kerja tubuh dan jiwa. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi.

 Menentukan (determine) kepribadian memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu.
 Karakteristik dalam berperilaku dan berpikir  setiap individu memiliki pola berperilaku dan berpikir yang khas sebagai karakteristiknya dalam menghadapi lingkungan, sehingga kepribadian juga memiliki fungsi adaptasi.
Kesimpulan
 Kepribadian memiliki keunikan atau kekhasan yang berbeda antara individu satu dengan yang lain.
 Individu memiliki style atau gaya untuk berpikir dan berperilaku yang konsisten dalam menghadapi lingkungan yang berbeda-beda.
 Kepribadian memiliki fungsi adaptasi, yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya
Kepribadian dan temperament
 Kepribadian pola-pola perilaku yang dimiliki subyek diperoleh dari faktor pembawaan dan lingkungan
 Lebih dinamis dan dapat diubah melalui fungsi insentif
 Temperament diperoleh dari pembawaan dan merupakan disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor biologis atau fisiologis atau keturunan
 Sifat-sifat kepribadian yang tidak banyak berubah karena insentif atau hal-hal lain yang lebih komplek
Pembentukan kepribadian
 Faktor herediter, pembawaan yang diperoleh dari orangtuanya  temperament




Dapat diubah melalui pelatihan-pelatihan (Goleman)
 Fisik
 Pengalaman pada usia dini
 Pengaruh kebudayaan
 Nama dan pemberian cap pada anak
 Perasaan berhasil dan gagal
 Keluarga pola pendidikan, sikap orangtua, situasi emosional dalam keluarga
 penerimaan lingkungan sosial
Tipe kepribadian
 Ekstrovert  bersifat mudah terbuka, tertarik atau senang bergaul dengan individu lain. Responya bersifat realistis, dapat bertingkah laku sesuai tuntutan lingkungannya. Segalanya ditanggapi secara obyektif./
 Introvert  segalanya ditanggapi sesuai dengan keadaan dirinya, malu thd masyarakat (menutup diri) sangat sensitif thd kritik. Dlm menghadapi msl dianalisa dg kacamata sendiri. Jadi sifatnya subyektif.
 Ambivert  tipe ini bersifat realistis/obyektif, tetapi kadang-kadang bersifat subyektif tdk dpt digolongkan ekstrovert atau introvert.

Pengukuran kepribadian
Cara-cara pra ilmiah untuk mengenal kepribadian
• Chirologi atau Palmistry  ilmu gurat tangan (rajah(
• Astrologi  ilmu perbintangan
• Grafologi  ilmu tentang tulisan tangan
• Phrenologi  ilmu tentang bentuk tengkorak
• Onychologi  ilmu tentang kuku
Hipocrates
• Usaha mengenal kepribadian yang tergolong semi ilmiah dikemukakan oleh Hipocrates (dokter) yang terpengaruh ahli kosmologi yang bernama Empedokles.
• Alam semesta terdiri dari tanah, air, udara dan api.
• Tanah memiliki sifat kering, air – basah, udara – dingin, api – panas.
• Sifat kering, basah, dingin, dan panas juga terdapat pada cairan yang ada pada tubuh manusia.
• Sifat kering ada pada chole (empedu kuning), basah ada pada melanchole (empedu hitam), dingin ada pada phlegma (lendir) dan sifat panas ada pada sanguis (darah).
• Keempat cairan tubuh tersebut ada pada tubuh manusia dengan proporsi yang selaras.
Tipologi Hipocrates - Galenus

KESEHATAN MENTAL
Oleh:
A.ARIYADI WARSITO

KOMPONEN KESEHATAN MENTAL
• PIKIRAN: Dalam memenuhi kebutuhan diperlukan adanya aspek kognitif dari individu agar tidak keliru dalam pengambilan keputusan
• PERASAAN :Pemenuhan kebutuhan diri akan dicapai dengan penuh perasaan sesuai dengan perkembangan dirinya.
• SIKAP JIWA:Untuk terpenuhinya kebutuhan dipelukan sikap jiwa yaitu suatu dorongan/pola bertindak/pencetusan suatu kehendak yang tadinyan timbul dari perasaan yang diekspresikan dalam suatu gejolak untuk dasar bertindak bagi seseorang.
• PANDANGAN HIDUP:gambaran tentang kehidupan yang sesuai dengan realita yang ada pada dirinya
• KEYAKINAN HIDUP: manusia sebagai mahluk hidup yang dapat mempergunakan segala kemampuannya untuk mempertahankan hidupnya dengan menggunakan akal sehat,perasaan dan ppandangan jauh kedepan bahwa dirinya hidup diantaramahluk yang lain.
PENDEKATAN KESEHATAN JIWA
• Pangkal tolak :
• ORIENTASI KLASIK: ADANYA KELUHAN SETELAH DIRINGANKAN DAN MENMDAPAT PENYEMBUHAN AKAN MEMBAWA INDIVIDU KE ARAH KESEHATAN JIWA
2. ORIENTASI PENYESUAIAN DIRI:MENEKANKAN
ASPEK EKSTRA PSIKIS INDIVIDU, KEMANA INDIVIDU AKAN MENYESUAIKAN DIRI YANG DIKATAKAN SEHAT
3. ORIENTASI PERKEMBANGAN IND:MENEKANKAN PENGEMBANGAN ASPEK INNER NATURE.
K0NSEPSI MASLOW TTG INNER NATURE

 INDIVIDU MEMPUNYAI ESENTIAL INNER NATUR YANG INSTINCTOID YANG MERUP MATERI KASAR.

 HAL TSB DIATAS MERUPAKAN POTENSI YANG BELUM SELESAI.

 INNER NATUR INI MUDAH DIREPRES DAN DISURPRISE.

LANJUTAN

• MESKIPUN INNER NATURE LEMAH TETAPI HAMPIR TIDAK PERNAH HILANG SAMA SEKALI.

• INNER NATURE INI DAPAT BERKEMBANG MENUJU KEDEWASAAN

• MENGALAMI INDIVIDU SAKIT APABILA INNER NATURENYA FRUSTRASI / DIINGKARI ATAU DEPRESI
LANJUTAN

• PSYCHOLOGICAL HEALTH HANYA MUNGKIN APABILA APA YANG MENJADI INNER NATURE NYA DPT DITERIMA,DIRESPEKTIR OLEH DIRI SENDIRI MAUPUIN ORANGLAIN.

• INNER NATURE YANG DIMILIKI INDIVIDU PERLU SELALU DIKEMBANGKAN PALING TIDAK DITERIMA SBG ADA ATAU TIDAK DISADARI INDIVIDU TERSEBUT.
PENGERTIAN KESEHATAN MENTAL
A.CARL WITHERINGHTON
- SUATU KONDISI YANG BERASAL DARI ORGANIASASI MENTAL YANG NORMAL DAN BERFUNGSI
- ILMU PENGETAHUAN MENGENAI PEMELIHARAAN / PERTAHANAN KESEHATAN MENTAL
ZAKIAH DARADJAD
- TERWUJUDNYA KEHARMONISAN YANG SUNGGUH2 ANT FUNGSI JIWA DAN MEMP KESANGGUPAN UTK MENGHADAPI PROBLEM BIASA YANG TERJADI, MERASAKAN SECARA POSITIF KEBAHAGIAAN DAN KEMAMPUAN DIRINYA.


LANJUTAN
UU POKOK KESH JIWA ’66 NO 9 PS 4.
SUATU KONDISI YG MEMUNGK PER FISIK,INTELEKTUAL DAN EMOSIONAL YG OPT DR SES DAN PERKEMB ITU BEJLN SELARAS DG KEAD ORG LAIN.MK KM MEMP SIFAT HARMONIS,MEMP SEMUA SEGI KEHID MAN DAL HUB DG MAN LAIN.
US DEPARTMEN OF EDUCATION AND WELFARE
AKTIFITAS YG MELIBATKAN FUNGSI IND,MASA PENDUDUK DAN KEAHLIAN BERBAGAI DISIPLIN DIWARNAI OLEH MORAL,ETIKA AGAMA,PERSONAL INVESMENT,KONSEP PSIKOLOGI VALUE JUDGEMEN,TEORI PSIKIATRI,PENGT POLITIK,GERAKAN KESEJAHTERAAN DAN CULTISM

lanjutan
Mental Hygiene atau kesehatan mental adalah ilmu
yang mempelajari masalah kesehatan mental / jiwa,
bertujuan untuk mencegah timbulnya gangguan
/ penyakit mental dan gangguan emosi, dan berusaha
untuk mengurangi atau menyembuhkan penyakit
mental serta memajukan kesehatan jiwa rakyat
( Kartini Kartono: 2000: 3 )
PRINSIP POKOK KESEHATAN MENTAL

1. ADANYA DORONGAN PADA INDIVIDU

2. PEMENUHAN KEBUTUHAN PADA INDIVIDU

3. KEPUASAN

4. STATUS SOSIAL

5. KONDISI FISIK YANG BAIK BERKAITAN DENGAN KESEHATAN:FISIK,PSIKIS,SOSIAL DAN SPIRITUAL
FUNGSI KESEHATAN MENTAL
• PREVENTIF ( PENCEGAHAN )
Prinsip kesehatan mental dirumah,sekolah maupun masyarakat untuk mencegah terjadinya gangguan mental.
2. AMELIORATIF ( PERBAIKAN )
Merupakan upaya untuk memperbaiki kepribadian dan meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri shg gejala tk lk dan mekanisme pertahanan diri dpt dikendalikan.

lanjutan
• SUPORTIF ( PENGEMBANGAN )
Merupakan upaya untuk mengembangkan mental yang sehat atau kepribadian ,sehingga seseorang mampu menghindari kesulitan – kesulitan psikolopgis yang mungkin dialaminya.

MELALUI MENTAL HYGIENE DAPAT DIUPAYAKAN BAGAIMANA MENATA KEHIDUPAN MENTAL,BAIK DIRI SENDIRI, LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, MASYARAKAT ATAU KEHIDUPAN BERBANGSA SEHINGGA TERCAPAI KEBAHAGIAAN,KETENTERAMAN DAN KENYAMANAN.
SEJARAH SINGKAT PERKEMB KESEHATAN MENTAL
ERA PRA ILMIAH
KEPERCAYAAN ANIMISME: KEPERCAYAAN BAHWA DUNIA INI DIKUASAI DAN DIAWASI OLEH ROH – ROH ATAU DEWA-DEWA. OARNG MENGALAMI GANGGUAN MENTAL KARENA DIMARAHI OLEH ROH ATAU DEWA .UTK MENGHINDARI DIADAKAN PERJAMUAN / SEDEKAH OLEH MASYARAKAT.

KEMUNCULAN NATURALISME: JAMAN HIPOCRATES DG PANDANGAN REVOLUSIONER DLM PENGOBATAN DG PEDOMAN. NATURALISME, SUATU ALIRAN YANG BERPENDPT BHW GANGG MENTAL / FISIK MERUP AKIBAT DARI ALAM.
LANJUTAN
• ERA ILMIAH ( MODERN )

MERUPAKAN PERUBAHAN YANG SANGAT BERARTI DALAM
SIKAP DAN CARA PENGOBATAN GANGGUAN MENTAL YAITU
DARI ANIMISME ( IRRASIONAL ) DAN TRADISIONAL KE SIKAP
DAN CARA RASIONAL ( ILMIAH ) YANG TERJADI SAAT
BERKEMBANGNYA PSIKOLOGI ABNORMAL DAN PSIKIATRI
TH 1783 DIMANA BENYAMIN RUSH (1745 – 1813 ) JADI STAF
MEDIS DILANJUTKAN OLEH DROTHEA LYNDE DIX DAN
CLIFFORD WHITINGHAM BEERS, WILLIAN JAMES DAN
ADOLF MEYER YANG MENYARANKAN ADANYA GERAKAN
MENTAL HYGIENE ( PENGUKUHAN SCR HUKUM 3 JULI 1946 )

TUJUAN YANG TERKANDUNG DALAM GERAKAN
MENTAL HYGIENE
• MENINGKATKAN KM SELURUH WARGA AS MLL:PENELITIAN,INVESTIGASI,EKSPERIMEN,PENAYANGAN KASUS-KASUS,DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN

• MEMBANTU LEMBAGA PEM DAN SWSTA MELAKS PENELT DAN KOORDINASI ANTAR PENELITI DLM MELKS KEG DAN MENGAPLIKASIKAN HSL PENELT.

• MEMB LATIHAN THD PARA PERSONIL TTG KES MENTAL.

• MENGEMB DAN MEMBANTU NEGARA DLM MENERAPKAN BERBAGAI METODA PENCEGAHAN,DOAGNOSIS DAN PENGOBATAN THD PARA PENGIDAP GANGG MENTAL.
SEJARAH KESEHATAN MENTAL
• AWAL GERAKAN HYGIENE MENTAL

Dengan nama baru ,Mental Hygiene boleh dikatakan berkembang kurang lebih 50 tahun yll.Namun ilmu ini pada hakekatnya dpt dipandang sbg satu penanaman baru bagi ilmu pengetahuan yg menyelidiki masalah kehidupan manusia yg sdh ada sejak ribuan tahun yll. Zaman dahulu org menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan,roh jahat dan dosa.
Lanjutan
a. Era Pra Ilmiah
1. Kepercayaan Animisme
Sejak jaman dahulu, sikap terhadap gangguan kepribadian telah muncul dalam konsep primitif animisme yaitu suatu kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa.

2. Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada jaman Hipocrates yaitu suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam.

b. Era Ilmiah (Model)
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental, dari animisme (irasional) ke sikap dan cara yang ilmiah (rasional). Hal ini terjadi saat berkembangnya Psikologi Abnormal dan Psikiatri di Amerika (1783).

Perkembangan Psikologi Abnormal dan Psikiatri memberikan pengaruh lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu Body of Knowledge.




Lanjutan
• Tokoh-tokoh Pengembang Mental Hygiene, antara lain :
• A. Dorothea Lynde Dix
• B. Clifford Whittingham Beers
• C. William James
• D. Adolf Meyer

• Secara hukum, gerakan mental hygiene dikukuhkan pada tanggal 3 Juli 1946 saat Presiden Amerika Serikat menandatangani “The National Mental Health Act”.


Lanjutan

Pada tahun 1950 organisasi mental hygiene bertambah yaitu dengan berdirinya:

1. National Association For Mental Health
2. National Committee For Mental Hygiene
3. National Mental Health Foundation
4. Psychiatric Foundation

Gerakan ini dikembangkan pula melalui The World Federation For Mental Health dan The World Health Organitation.
Konsepsi yang Salah Mengenai Kesehatan Mental


• Penyakit Mental adalah Herediter, merupakan warisan atau keturunan. Pendapat ini adalah keliru, karena penyakit ini tidak diturunkan oleh orang tua kepada anaknya seperti penurunan ciri-ciri jasmaniah yang karakteristik pada umumnya. Sebab-sebab penyakit mental pada umumnya berasal dari tekanan mental atau batin.

• Penyakit Mental tidak dapat disembuhkan.
Hal ini dibuktikan dengan adanya pasien yang setelah mendapat perawatan khusus terutama yang masih dalam stadium awal dapat kembali ditengah keluarganya dan dinyatakan sembuh.











3. Penyakit Mental dapat timbul dan menyerang secara tiba-tiba.
Yang benar, penyakit mental tidak pernah muncul secara mendadak pada seorang yang sehat.
Bibit-bibit dari gangguan mental pada dasarnya sudah ada sebelum penampakan gejala-gejala atau fenomenanya.

4. Penyakit Mental adalah suatu noda hitam.
Hal ini terlalu berlebihan. Sebab penyakit mental merupakan akibat dari sebab-sebab sosial yang lumrah dan merupakan produk serta tekanan kehidupan sehari-hari. Orang yang sakit mentalnya bukanlah orang yang berdosa atau bernoda.


lanjutan
• 5. Penyakit mental adalah suatu peristiwa tunggal.
Hal ini tidaklah benar karena gangguan mental itu banyak sebabnya, bervariasi, kompleks, dan saling kait mengait satu sama lain.

• 6. Seks merupakan sebab timbulnya penyakit mental.
hal ini merupakan pendapat yang salah. Tingkah laku seks yang abnormal biasanya adalah simptom, bukan sebab dari maladjustment pribadiyang kompleks dan serius.
Jika ada aktivitas seksual yang ikut serta menjadi penyebab ,maka berupa rasa bersalah dan rasa ketakutan atau rasa berdosa untuk melakukan reaksi seks yang menjadi penyebab timbulnya penyakit mental.Perbuatan seks itu sendiri bukan yangb menimbulkan gangguan mental.
KEBUTUHAN DAN DINAMIKA MANUSIA
• Tiap langkah manusia merupakan manifestasi beberapa kebutuhan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
• Obyek dari kebutuhan tersebut menonjolkan arti yang sebenarnya dari tingkah laku manusia.
• Ketegangan dan konflik akan timbula apabila kebutuha n hidup yang cukup vita,l terhjalang atau kurang terpenuhi sehuingga dapat mengalami frustrasi.
• Kebutuhan adalah suatu dorongan atau motif psikologis dan fisiologis yangh harus dipenuhi / dipuaskan oleh organisme agar supaya mereka bisa sehat sejahtera dan mam pu melakukan fungsinya.
• Kebutuhan itu dapat bersifat fisis, ( organis, biologis, vital ) juga bersifat psikis dan sosial.
Kebutuhan Manusia Dapat Dibagi Menjadi 3 Niveau
• Kebutuhan –Kebutuan Biologis atau Vital
Kebutuhan ini diharapkan dapat terpenuhi pada manusia meliputi kebutuhan akan : makanan, pakaian, minuman, udara segar, guaca, tidur, rumah, perlindungan, dorongan untuk beristirahat dll.

• Kebutuhan yang human atau sosio budaya dan psikologis.
Kepribadian manusia adalah suatu totalitas dari disposisi fisis dan psikis yang terorganisir dengan rapi dan sifatnya dinamis. Sbg manhluk sosial manusia tdk dapt terisolasi dan memerlukan pengarahan diri keluar yaitu keluar kepada aku lain.
Manusia membutuihkan kontak dan komunikasi dengan orang lain, ingin dicintai, dihitung, dan dihargai oleh orang lain.


c. Kebutuhan metafisis dan religius.
Kebutuhan ini sering disebut sebagai dorongan manusiawi untuk memberi artipada hidupnya.
Tanpa arti manusia tidak akan dapat hidup dalam taraf insani dan bentuk tertinggi dari dari pemberian ini adalah kedudukan akunya dalam hubungan dengan sang pencipta.

Faktor Penting Yang Dapat Mendorong Tk Lk Manusia :
• Otonomi Fungsional
• Pertumbuhan bentuk pemenuhan kebutuhan
• Frustrasi







lanjutan
.
1. Otonomi Fungsional adalah :
pengalaman kejutan yang sangat mencekam jiwa, punya arti dinamis yang sangat besar dan menjadi kekuatan otonom yanmgpada akhirnya secara fungsional menjadi terlepas dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Pada masa ini dapat terjadi trauma atau luka jiwa yang dialami seseorang.

2. Pertumbuhan bentuk pemuasan kebutuhan.
Lingkungan kebudayaan mempengaruhi cara seseorang dalam m,emenuhi kebutuhan hidupnya dan menentukan cara macamnya kebutuhan tersebut.
Cara pemenuhan kebutuhan tersebut ditampilkan dengan bentuk-bentuk kebiasaan dan perbuatan otomatis yang diberi model /pola oleh kebudayaan seseorang yang lambat laun akan menimbulkan kebiasaan bentuk tingkah laku.


lanjutan
3. FRUSTRASI DAN REAKSI FRUSTRASI
Frustrasi adalah suatu keadaan dimana suatu kebutuhan tidak terpenuhi dan tujuan itu tidak dapat tercapai sehingga orang kecewa dan mengalami satu halangan/ rintangan dalam usahanya mencapai satu tujuan.

atau :

a.Penghalangan tingkah laku yang tengah berusaha mencapai suatu tujuan.
b.Suatu keadaan ketegangan yang tidak menyenangkan disertai dengan kecemasan dan meningkatnya kegiatan simpatetis disebabkan oleh hambatan atau halangan.


lanjutan
Frustrasi selalu memanggil satu reaksi frustrasi tertentu yang dapat bersifat positif dan negatif. Berikut bebetrapa bentuk reaksi frustrasi yang membangun :

• Mobilisasi dan penambahan kegiatan
Berbagai kesulitan dan hambatanm dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi tantangan dan dapat memobilisir energi dan tenaga manusia.
• Besinnung( berpikir secara mendalam ddisertai wawasan jernih )
Berpikir secara mendalam dengan wawasan tajam dan jernih serta menggunakan akan budi dan kebijaksanaan sehingga tersusun reorganisasi dari aktivitas – aktivitasnya.

lanjutan
3. Resignation .
Adalah tawakal dan pasrah kepada Allah SWT. Pasrah dan Narimo artinya menerima situasi dan kesulitan yang dihadapi dengan sikap rasional dan sikap ilmiah yang mampu menhkoreksi terhadap kelemahan pribadi, tidak picik pandangan, terbuka, sanmggupm menerima kritik dan saran, berani mengakuimkesalahan sendiri,menghayati hukum kausalitas atau hukum sebab musabab dari setiap peristiwa, responsif dan sensitif terhadap kejadian-kejadian diluar dirinya,jujur dan obyektif.
4. Membuat dinamis irriil satu kebutuhan.
Kebutuah tertentu dapat mengalami atrofi atau merana/ mengecil/ tidak berfungsi lagi karena tidak pernah dipakai lagi.
lanjutan
5. Kompensasi atau substitusi dari tujuan – tujuan adalah:
Usaha untuk menggantikan atau mengimbangi sesuatu yang dianggap minder atau lemah.
Proses mereaksi terhadap perasaan-perasaan inferior.
Tingkah laku untuk mrnggantikan frustrasi sosial atau frustrasi fisik atau ketidak mampuan pada suatu ranah kepribadiantertentu.

6. Sublimasi( sublim=paling utama,maha tinggi) adalah:
Usaha untuk mensubstitusikan atau mengganti kecenderungan –kecenderungan yang egois, nafsu-nafsu seks yang animalistis, dorongan biologhis yang primitif dan aspirasisosial yang tidak sehat menjadi tinmgkah laku yangn lebih luhuir yang dapat diterima denga baik oleh masyarakat.


PENYESUAIAN DIRI DALAM KESEHATAN MENTAL
Kepribadian yang sehat mentalnya ialah:
Memiliki kemampuan untuk mengadakan adjustment atau penyesuaian diri secara harmonis baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Adjustment dapat ditafsirkan sebagai berikut:
• Berarti adaptasi atau penyesuaian diri dalam pengertian yang lebih luas berarti kemampuan untuk dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah serta dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.

2. Sebagai konformitas atau cocok , pas, sesuai, dengan norma –norma hati nuranim sendiri dan norma – norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat

3. Sebagai penguasaan yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisir respons-respons sedemikian rupa sehingga dapat menguasai / menanggapi segala macam konflik, kesulitan masalah hidup, frustrasi – frustrasi dengan cara yang efisien.

4. Sebagai hygiene fisik.
M empertahankan kesegaran jasmani guna mengurangi ketegangan emosional dan frustrasi dan dapat menstimulir perkembangan minat serta sikap hidup yang positif.

6. Sebagai penguasaan dan kematangan emosional.
Mampu bersikap positif, memiliki respons emosional yang tepat pada setiap situasi, pengontrolan terhadap emosi sendiri

7. Adjustment dihubungkan dengan seks.
Berupa kemampuan untuk mereaksi secara wajar terhadap realitas seks ( impuls-impuls, dorongan – dorongan seks, konflik-konflik dan frustrasi dalam seks, perasaan bersalah, perbedaan seks ).

8. Adjustment terhadap keluarga.
mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga.

9. Adjustment terhadap sekolah.
Sejak usia yang sangat muda anak-anak harus dibiasakan terhadap disiplin dan peraturan sekolah yang sangat penting bagi pengembangna inteligensi dan kepribadiannya.



Salah satu tugas sekolah adalah memupuk kesehatan jiwa anak, mengembangkan kesadaran etis / kesusilaan dan memberikan kebahagiaan npada anak disamping tugasc mengoperkan warisan ilmu mpengetahuan dan teknologi.
10. Adjustment sebagai social adjutment.
Ada kesanggupan untuk mereaksi secara efektif dan harmonis trerhadap realitas sosial dan situasi sosial dan dfapat mengadakan relasi sosial yang sehat.Dapat m,enghargai pribadi lain, hak-hak sendiri didalam masyarakat, bergaul dengan orang lain dengan jalan membina persahabatan yang kekal.
11.Adjustment sebagai penyesuaian kultural.
Menghargai nilai,hukum, adat kebiasaan,tradisi norma-norma sosial dan kebiasaan masyarakat.
12. Adjustment terhadap nilai-nilai moral dan religius.
Nilai moral merupakan segala nilai yang bersangkutan dengan ajaran kesopanan dan kesusilaan,moralitas m,erupakan b again esensial sifat manusia yaiyu merupakan kapasitas untuk dapat menanggapi tuntutan hidup bermoral dengan cara adekuat dan efektif.
MANAJEMEN STRESS
Stress merupakan fenomena psikofisik yang bersifat manusiawi
dimana stress bersifat inheren dalam diri setiap orang saat menjalani
kehidupannya sehari-hari. Stress dapat dialami oleh setiap manusia.

Stress dapat memberikan pengaruh positif yaitu dapat mendorong
individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran dan
menghasilkan pengalaman baru. Sebaliknya memberikan pengaruh
negatis apabila menim,bulkan perasaan tidak percaya diri,
penolakan,marah / depresi,memicu berjangkitnya penyakit ( kepala,
perut, insomnia, tekanan darah tinggi dsb).




Teori tentang stress dapat digolongkan dalam tiga variabel pokok :

• Variabel Stimulus / engineering approach ( pendekatan kerekayasaan ) dimana stress dikonsepsikan sebagai suatu stimulusatau tuntutan yang mengancam, yaitu tekanan dari luar thd ind yang dpt menyebabkan sakit.
• Variabel Respon / physiological approach ( pendekatan fisiologis ) yang mendasarkan diri pada model triphase dari Hans Seley dg GAS( General Adaptation Syndrome):
a.Reaksi alarm: terjadi ketika organisme merasakan ada ancaman kemudian meresponnya dg figt atau flight.
b.Resistance: terjadi apabila stress berkelanjutan, terjadi perubahan fisiologis yang melakukan keseimbangan sebagai upaya mengatasi ancaman.
c. Exhaustion: terjadi jika stress terus berkelanjjutan diatas periode waktu tertentu sehingga organisme mengalami sakit ( menurut Selye oeganisme memiliki keterbatasan untuk melawan(fight) stress)



3. Variabel Interaktif meliputi dua teori yaitu:

a. Teori interaksional : teorui yang memfokuskan pembahasan pada aspek-aspek:
1). Keterkaitan individu dengan lingkungannya
2).Hakekat hubungan antara tuntutan pekerjaan dengan kebeba
san mengambil keputusan

b. Teori Transaksional: yang memfokuskan pada aspek-aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksidengan lingkungannya serta gaya-gaya coping yang dilakukan.
Menurut teori ini stress diartikan sebagai hasil/ akibat dari ketidak seimbangan antara tuntutan dan kemampuan.


Jadi Stress adalah:
Perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tetrtekan, baik fisik maupun psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor ( stimulus yang berupa peristiwa, obyek, orang ) yang mengancam, mengganggu, membebani, membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan atau kesejahteraan hidupnya.
Gejala Stress.
• Gejala fisik : sakit kepala,lambung,hipertensi, jantung atau berdebar-debar, insomnia,mudah lelah,keluat keringat dingin,kurang selera makan,sering buang air kecil.
• Gejala Psikis: gelisah/cemas, kurang dpt konsentrasi apatis,pesimis, hilang rasa humor, bungkam seribu bahasa,melamun,marah-marah tanpa sebab,agresif ( kt-kt kasar,memecah barang,membanting pintu, menendang )

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ATAU PEMICU STRESS

• Stresor fisik biologik : penyakit yang sukar disembuhkan, cacat fisik atau kurang berfungsinya salah satu anggota badan
• Stresor Psikologik: negative thinking/berburuk sangka, frustrasi,iri hati atau dendam, sikap permusuhan,cemburu, konflik pribadi, keinginan diluar kemampuan.
• Stresor sosial :
a.iklim kehidupan keluarga ( perceraian, broken home, selingkuh, ditinggal mati,anak nakal,menkonsusi minuman ke4ras,tingkat ekonomi keluarga rendah.
b.Faktor pekerjaan (PHK,perselisihanm dg atasan,jenis pekerjaan yg tdk sesuai)
c.Iklim Lingkungan ( kriminalitas, tawuran, harga kebutuhan pokok mahal,krang tersedia fasilitas.
KESEHATAN MENTAL DALAM LINGKUNGAN KELUARGA,SEKOLAH ,MASYARAKAT DAN KERJA
UNTUK MENCIPTAKAN KELUARGA, SEKOLAH , MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN KERJA SEBAGAI LINGKUNGAN YANG KONDUSIF BAGI PERKEMBANGAN MENTAL YANGSEHAT DIANTARANYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
LINGKUNGAN KELUARGA:
• Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
• Tersedianya waktyu bersama dalam keluarga
• Terciptanya kemunikasi yang baik antar anggota keluarga
• Saling menghargai antar sesama anggota keluarga
• Keluarga sebagai ikatan sosial terkecil dalam masyarakat hendaknya kuat, erat dan tidak longgar
• Apabila dlm keluarga terjadi krisis utamakan keutuhan rumah tangga secara konstruktif dan positif


LINGKUNGAN SEKOLAH:
• Pencapaian tugas melalui Kelompok Teman Sebaya
Teman sebaya mempunyai peranan penting karena remaja sering menempatkan teman sebay sebagai posisi prioritas apabila dibandingkan dengan orang tuanya atau gurunya dalam menyatakan kesetiaannya.
• Mencapai perkembangan kemandirian pribadi ( personal independence )
Remaja merupakan periode perkemb kearah kemandirian dimana harus menyelesaikan tugas perkembangannya.
• Pengembangan filsafat hidup
Hal ini merup pencapaian kematangan dalamm aspek nilai atau kontrol etika sebagai pertanda bahwa ia sebagai pribad yang baik

• Pengembangan Keimanan dan Ketaqwaan Kepada Tuhan YME
Tugas perkemb ini bnerkaitan dg hakekat man sbg nahluk Tuhan yg memp tugas suci utk bneribadah kepada Nya.
PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DI LINGKUNGAN MASY.
Pihak yg bertanggung jawab dlm pengemb ini adalah pemerintah,
Para pimp org sospol,keagamaan,pengusaha, pimp informal dan
Warga masyarakat itu sendiri.
PENGEMB KESH MENTAL DI LINGK KERJA meliputi :
• Keinginan/kebutuhan pekerja
• Semangat kelompok
• Kepemimpinan yang demikratik
• Masalah keluarga pekerja
SEBAB-SEBAB PERILAKU ABNORMAL
• Menurut Tahap berfungsinya.
1.Penyebab Primer : kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan tidak akan muncul
2.Penyebab yang menyiapkan : kondisim yang mendahului dan membuka jalan nbagi kemungkina terjadinya gangguan tertentu dalam kondisi-konmdisi tertentu dimasa mendatang.
3.Penyebab pencetus: setiap kondisi yang tak tertahankan bagi individui dan mencetuskan gangguan.
4. Penyebab yang menguatkan : kondisi yangb cenderung mempertahankan atau memperteguih tingkah laku maladaptif yang sudah terjadi.
5. Sirkularitas faktor-faktor penyebab: Dalam kenyataan jarang muncul gangguan yang haya disebabkan oleh satu penyebab saja.

• MENURUT SUMBER ASALNYA.
1. Faktor Biologis : berbagaim keadaan biologis atau jasmaniah yang dpt m,enghambat perkembangan maupun fungsi pribadi dalam kehidupan sehari-hari seperti kelainan gen, kurang gizi, penyakit yang muncul dsb.
2. Faktor-faktor psikososial. Misal: Trauma dimasa kanak-kanak,Deprivasi Parental (tiadanya kesempatan untuk mendpt rangasngan emosi dari orang tua,Hubungan orang tua-anak yang patogenik: adanya hubungan yang tidak serasi.Struktur keluarga yang patogenik: mis : keluarga yang tdk becus, kel anti sosial, kel yg tdk akur dan kel yg bermasalah,Stress berat mis frustrasi,konflik nilai, tekanan kehid modern.
3. Faktor-faktor sosial :dpt menimbulkan suasana perang,menjalankanm peran sosial yg menimb gangguan,menjadi korban prasangka,resesi ekonomi,perubahan siosial
GANGGUAN KEPRIBADIAN, KEJAHATAN DAN AFEKTIF
Gangguan dlm kategori ini bersumber dari perkemb kep yg tdk masak dan menyimpang
Tiga klp gangguan utama yg terkategori yaitu:
• Gangguan kepribadian dg ciri-ciri: Hub pribadi dg org lain terganggu dan cenderung merugikan org lain,memandang bhw semua kesulitannya krn nasib buruk / perbuatan jahat org lain, tdk memp rasa tanggung jawab thd org lain,ind ini tdk pernah melepaskan diri dr perilaku yang maladaptif, sll menghindar dr tgg jwb atas masalah yang ditimbulkan.
Beberapa gangg kep yg menonjol al:
a.Kepribadian paranoid, skizoid dan skizotype
b.Gangg Kep Histrionik, narcisistik dan antisosial.
c.Gangg Kep Avoidan, tergantung, Kompulsif dan Agresifppasif

• Kepribadian Antisosial ( Psikopatik )
Penderota gangg ini bercirikan: perkemb moral terhambat, tidak mampu mencontoh perbuatan yang diterima masyarakat ( socially desirable behaviors ), kurang dapat bergaul, tdk mampu mengemb kesetiaan pd org lain/klp/nilai-nilai sosial yg berlaku shg sering bentrok dg masy--------------sering disebut dg gangg sosiopatik mis : bisnis sering curang

• Perilaku Kriminal
Tindak kejahatan dan perilaku kriminal digolongkan dlm gangg kep sebab melawankepentingan umumsecara keseluruhan,Sec biologis disebabkan kerusakan tertentu pd otak,lat bel kel yg patologis.
GANGGUAN AFEKTIF
Gangguan ini adalah gangg “ Mood”, tingkat emosi yang ekstrem dan tidak sesuai meliputi kegembiraan ( elation ) dan kesedihan ( depression ) yang ekstrem.
• Gangguan Afektif Ringan.
Salah satu jenis ini adlh depresi normal yi duka cita/grief /kepedihan. Gangg ini merup proses psikologis mengikuti pengalaman kehilangan / loss sesuatu yg berharga.. Ciri –ciri penderita :tdk bereaksi thd peristiwa lain yg secara normal akan membangkitkan respon yg kuat,tenggelam dalm fantasi yg sdh berlalu.
Deprsei melibatkan :
a. Ketergantungan,pend merasa butuh dukungan org lain.
b. Kritik diri, membesarkan kekurangan pada dirinya
c. Inefficacy, perasaan tidak berdaya




• Gangguann Afektif Neurotik
Adalah emosi atau mood yg mengakibatkan fungsi dan aktivityas penderita sangat terhambat namun tdk sampai mengalami putus kontak dg realiotas.Salah satunya Depresi Neurotik dg ciri-ciri: putus asa, sedih,tdk bersemangat,tk kecemasan tinggi,aktv berkurang,sulit konsentrasi, selera dan gairah menghilang,keluhan somatik tertentu.
• Psikosis Afektif
Gangg ini dalam dua hal yi :
a. Memp keseluruhan keribadian penderita
b. Penderita kehilangan kontak dg realitas mis: Gangg Depresi Mayor adlh gangg afektif berat yg hanya meliputi depresi dan Gangg Afektif Bipolar diman ada serangan rasa gembira dan susah yang ekstrem diselingi dg jeda berupa keadaan normal
PENGGOLONGAN DEVIASI SEKSUAL
Deviasi seksual dapat digolongkan menjadi empat yaitu:
• Menurut keinginan kemampuannya.
• Menurut gangguan identitas dan peran jenisnya.
• Menurut obyek seksualnya]
• Menurut cara bersenggamanya/mencapai kenikmatan seksual
Bentuk deviasi seksual adalah:
• Masturbasi atau onani
• Impotensia
• Ejakulasio prekox
• Anorganisma
• Frigiditas
• Dispareunia dan vaginismus
• Fobia Seksualis
• Transvestisisma dan transseksualisma
• Hyperseksualitas
• Homoseksualitas dan lesbianisma






11. Fetishima 26. Cunnilinctus atau cunnilingus
• Masokisma dan Sadisma 27. Analisma.
• Pedofilia ( WM Roan,1979: 313-350 )
• Gerontofilia
• Inses
• Sodomia, bestialitas dan zoorastia
• Nekrofilia
• Exhibisionisma
• Voyeurisma atau skoptofilia
• Frotteurisma
• Mixoskopia
• Koprofilia
• Grafittae
• Pornografi
• Fellatio

CARA MENJAGA KESEIMBANGAN
• Mengeluarkan dan membicarakan kesulitan
• Menghindari kesulitan untuk sementara waktu
• Menyalurkan kemarahan
• Bersedia menjadi pengalah yang baik
• Berbuat suatu kebaikan untuk orang lain dan memupuk sosialitas/kesosialan
• Menyelesaikan satu tugas dalam satu saat
• Jangan mengganggap diri terlampau super
• Menerima segala kritik dengan lapang dada
• Memberikan kemenangan pada orang lain
• Menjadikan diri sendiri serba guna
• Mengatur saat-saat rekreasi.

KETERTARIKAN
ANTAR PRIBADI
Afiliasi : Asal Mula Ketertarikan
• Akar afiliasi pada saat infancy
• 6 hal penting yang dapat diperoleh dari hubungan dengan orang lain
- kasih sayang
- integrasi sosial
- harga diri
- rasa persatuan yang dpt dipercaya
- bimbingan
- kesempatan untuk mengasuh

Alasan Afiliasi
• Social exchange theory menyatakan bahwa seseorang berafiliasi sebagai cara untuk mencapai tujuan
• Reinforcement theory memandang bahwa orang lain merupakan reward dalam afiliasi
• Social comparison theory. Nilai implisit lain dari afiliasi adalah bahwa proses tersebut merupakan suatu alat evaluasi diri.
• Afiliasi untuk mereduksi rasa takut (Stanley Schachter)
Penentu ketertarikan antar pribadi
• Kesamaan
• Kedekatan
• Keakraban
• Daya tarik fisik
• Kemampuan
• Karakteristik yang menyenangkan
• Reciprocal liking
• Complementary of need system
Ciri Hubungan yang erat/intim
• Kelekatan emosional
• Pemenuhan kebutuhan psikologis pasangan, jaminan rasa aman
• Saling ketergantungan diantara individu-individu
Tahap Perkembangan Hubungan (Altman dan Taylor)
• Tahap Orientasi. Pembicaraan sedikit, dangkal dan impersonal.
• Penjajakan pertukaran afeksi. Kesediaan untuk diketahui dan difahami
• Pertukaran afeksi. Interaksi melibatkan beberapa aspek pribadi.
• Pertukaran yang stabil. Pemahaman yang baik, kesiapan masing-2 untuk menafsirkan perasaan dan perilaku orang lain
Model Proses Interpersonal dalam keintiman/keakraban
• Individu menyingkapkan informasi, pikiran, dan perasaan pada partner
• Penerimaan sbg respon partner
• Penafsiran respon partner sbg understanding, validating, dan caring
Aspek Kompetensi Interpersonal (Buhrmeister)
• Initiative. Usaha untuk memulai suatu bentuk interaksi
• Negative assertion. Kemampuan untuk mempertahankan diri dari tuduhan yang tidak adil, kemampuan untk mengatakan tidak terhadap permintaan yang tidak masuk akal, kemampuan untuk minta pertolongan saat memerlukan

Aspek Kompetensi Interpersonal
• Disclosure. Pengungkapan bagian dalam diri (minat, ide, pendapat, pengalaman, perasaan) kepada orang lain
• Emotional support. Ekspresi perasaan yang memperlihatkan adanya perhatian, simpati, dan penghargaan terhadap orang lain
Aspek Kompetensi Interpersonal
• Conflict Management.
Cara atau strategi untuk menyelesaikan adanya pertentangan dengan orang lain yang mungkin terjadi saat melakukan hubungan interpersonal
Teori-teori Hubungan Sosial
• Reinforcement-affect Theory
Orang cenderung tertarik pada orang yang memberikan ganjaran atau reinforcement positif dan tidak suka pada orang yang memberikan reinforcement negatif
Teori-teori Hubungan Sosial
2. Teori Pertukaran Sosial
Rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada penilaian kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang pada kita
Teori-teori Hubungan Sosial
3. Teori Keadilan
Merupakan turunan dari teori pertukaran sosial. Prinsip teori ini adalah pola hubungan manusia melibatkan proses tukar menukar, di mana supaya pertukaran bisa menumbuhkan keharmonisan dan perasaan senang harus dilandasi prinsip keadilan
CINTA
• Companionate love (cinta persahabatan) adalah afeksi mendalam yang kita rasakan terhadap terhadap seseorang yang kehidupannya saling berjalin dengan kehidupan kita
• Passionate Love (cinta birahi)adalah suatu keadaan yang sangat mengasyikkan pada seseorang; suatu sikap terhadap orang lain, himpunan pikiran yang khusus tentang orang yang dicintai
Komponen Cinta (Robert Sternberg)
Triangular Theory of Love
• Intimacy, berisi perasaan yang menciptakan pengalaman kehangatan dalam suatu hubungan
• Passion, dorongan yang mengarahkan pada daya tarik romantisme dan fisik serta perilaku seksual
• Commitment, melibatkan keputusan jangka pendek bahwa seseorang mencintai yang lain dan sepakat untuk memelihara cinta tersebut
7 Variasi Model Cinta
Reaksi Orang Menghadapi Kemunduran Hubungan

PEMBELAJARAN
HAKEKAT PEMBELAJARAN
 guru membelajarkan siswa
 filsafat konstruksionisme , student centered learning, belajar berorientasi pada peserta didik
 guru merancang acara pembelajaran sesuai perkembangan peserta didik
 guru terus melakukan pembelajaran dengan ptk (penelitian tindakan kelas)
 arrangement of learning stuation →
• mangement of learning : motivasi, minat
dan perhatian evaluasi hasil belajar
• condition of learning : prosedur berkaitan
dengan isi (content)
Kesimpulan :
pembelajaran adalah bentuk belajar mandiri,tugas pendidik membantu peserta didik mengkonstruksi pengetahuan sesuai situasi

◊ PRINSIP PEMBELAJARAN
menurut Piaget ada empat langkah :
1. menentukan topik
2. memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tertentu
3. guru mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah
4. menilai pelaksanaan tiap kegiatan memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi


◊ menurut Dimyati dan Mujiono ada 7 prinsip belajar :
1. perhatian dan motivasi
2. keaktifan
3. keterlibatan langsung
4. pengulangan
5. tantangan
6. balikan dan penguatan
7. perbedaan individual

◊ METODE PEMBELAJARAN
1. Metode ceramah
kejelasan, penggunaan contoh, penekanan, pemberian umpan balik
2. Metode tanya jawab
Keterampilan bertanya >
kemampuan berpikir cepat,
pengertian tajam tentang nilai relatif dalam menangani pertanyaan dan tanggapan siswa, keterampilan membuat kalimat bertanya, percaya diri.
3. Metode diskusi
bersifat interaktif, perlu keaktifan siswa.
tujuan :
penguasaan materi pembelajaran,
pembentukan dan modifikasi sikap,
pemecahan masalah.
4. Metode Kerja Kelompok.
Merupakan pemecahan masalah dan penyelesaian tugas melalui proses kelompok.
5. Metode Simulasi
Simulasi suatu tiruan yang hanya pura-pura.
Untuk melatih keterampilan tertentu
Memperoleh pemahaman sesuatu konsep
tertentu
Bentuknya misal role playing, sosiodrama, permainan
6. Metode demonstrasi
Memperlihatkan cara kerja dan proses terjadinya sesuatu.
Memberi pemahaman yang lebih baik, bagaimana cara mengatur, bagaimana proses kerjanya, bagaimana proses mengerjakannya.


PENGARUH SOSIAL
ARI
JUR PPB PRODI BK

 Pengaruh Sosial adl wilayah psikologi sosial yang menyelediki bagaimana orang dipengaruhi oleh tekanan (baik kenyataan atau perkiraan) orang atau kelompok lain
 Pengaruh Sosial tjd setiap kali kita berpikir atau bertindak sebagai jawaban dari tindakan orang lain sebelumnya
Konformitas

Perubahan perilaku atau sikap yang disebabkan oleh keinginan untuk mengikuti keyakinan atau standard orang lain
Sebab-sebab terjadinya konformitas

 Normative social influence
Tekanan yang merefleksikan norma kelompok, yang berisi harapan mengenai perilaku yang tepat yang dipegang oleh para anggota kelompok.
 Informational social influence
Tekanan untuk menyesuaikan diri yang berasal dari asumsi kita bahwa orang lain memiliki informasi yang tidak kita miliki
Faktor yang mempengaruhi konformitas

 Kelompok. Makin besar, mampu, kuasa, berharga, dan makin bulat suara anggota kelompok → makin tinggi konformitas
 Masalah yang sedang diputuskan. Semakin samar dan sulit suatu masalah → makin tinggi konformitas
 Individu. Semakin cerdas dan pede → semakin kecil kemungkinan tjdnya konformitas
Stimulus garis dalam eksperimen Solomon Asch
Menolak melakukan Konformitas
 Individuasi
kebutuhan untuk menjadi berbeda dari orang lain dalam beberapa hal
 Orang-orang yang tidak dapat melakukan konformitas. Misalnya orang-orang cacat
Compliance /Kesepakatan

Menyerah terhadap permohonan secara langsung untuk melakukan sesuatu atau menyetujui suatu pandangan tertentu
Prinsip dasar kesepakatan
 Pertemanan/rasa suka
 Komitmen/konsistensi
 Kelangkaan
 Timbal balik/resiprositas
 Validasi sosial
 Kekuasaan
Strategi yang dapat menghasilkan compliance
 Ingratiation
Suatu teknik untuk memperoleh kesepakatan di mana pemohon pertama mengusahakan agar target meyukai mereka, kemudian berusaha untuk mengubah tingkah laku sesuai dengan yang diinginkan
Strategi
2. The Foot-In-The-Door Technique
Suatu teknik di mana pertama kali sasaran diminta untuk menyetujui sedikit permintaan, tetapi kemudian diminta untuk memberi sesuatu yang lebih berharga. Self perception theory → persetujuan awal, akan memulai proses di mana ind akan menyatakan dirinya kembali dalam cara yang konsisten dengan perilaku awal
Strategi
 The Door-In-The-Face Technique
Suatu teknik dgn permintaan yang besar, diperkirakan ditolak, kmd diikuti dgn permintaan lain yang lebih kecil.
Strategi
4. The That’s-Not-All Technique
Pada awal transaksi customer ditawari dengan harga yang melambung. Setelah itu penjual menawarkan insentif, discount, atau bonus untuk menutup tansaksi.
Strategi
5. The Lowball
Teknik di mana ketika persetujuan awal telah dicapai, penjual mengungkapkan tambahan biaya.
Strategi
6. Jual Mahal
Suatu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesepakatan dengan memberikan kesan bahwa seseorang atau suatu objek adalah langka dan sulit diperoleh.
strategi
7. Teknik Deadline
Suatu teknik untuk meningkatkan kesepakatan di mana orang yang menjadi target diberi tahu bahwa mereka memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keuntungan dari beberapa tawaran atau untuk memperoleh suatu barang.
Obedience (kepatuhan)
Perubahan perilaku karena perintah orang lain yang memiliki otoritas

Faktor yang paling penting dlm ketaatan adl bhw orang memiliki otoritas yang sah dlm situasi tsb, sesuai dengan norma sosial yang berlaku
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan
 Hadiah, hukuman, dan ancaman
 Peniruan atau imitasi (terbatas)
 Harapan orang lain
Indoktrinasi Intensif
Tahapan:
 Melunakkan (softening-up)
Anggota baru diisolasi dari teman-teman dan keluarga, dibuat bingung, lelah, dan disorientasi. Tujuannya adalah memisahkan mereka dari kehidupan lama dan membuat mereka mau menerima pesan-pesan kelompok

Indoktrinasi Intensif
2. Kesepakatan (compliance)
Anggota baru diminta untuk mengiyakan
permintaan dan belief kelompok serta
secara aktif “mencoba” peran sebagai
anggota.
Indoktrinasi Intensif
3. Internalisasi
Anggota baru mulai menerima bahwa
pandangan kelompok adalah benar dan
mereka sungguh-sungguh mempercayai
pandangan-pandangan tersebut.
Kesepakatan publik digantikan dengan
penerimaan dari hati.

Indoktrinasi Intensif
4. Konsolidasi
Anggota baru memperkuat keanggotaan
mereka dengan melakukan tindakan yang
mahal, yang membuat mereka sulit, atau
bahkan tidak mungkin untuk mundur.
Misalnya memberikan seluruh hartanya
untuk kelompok.


PERBEDAAN INDIVIDUAL

Perbedaan individual pada peserta didik

1. Usia kronologis
2. Konstitusi fisik
3. Aspek psikologis
4. Kemampuan mental umum/inteligensi
5. Kemampuan khusus/bakat.
6. Kesiapan belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan individual

1. Faktor keturunan
2. faktor lingkungan
 Faktor sosial ekonomi
 Faktor budaya
 Pola asuh orangtua
 Urutan kelahiran


Implikasi perbedaan individual dalam pendidikan

1. Sekolah diharapkan dapat mewujudkan pelayanan yang memadai bagi setiap siswa secara optimal meskipun ada perbedaan individu.
2. Sekolah/guru harus memperhatikan perlunya alat pengukuran untuk membantu menemukan perbedaan-perbedaan seawal mungkin dan setepat-tepatnya.
3. Sekolah perlu memperhatikan bahwa siswa hanya akan memperoleh kesempatan untuk berhasil dan sukses dalam batas-batas potensi mereka
4. Sekolah perlu memperhatikan bahwa faktor lingkungan fisik dan sosial merupakan penunjang bagi keberhasilan fungsi-fungsi perkembangan dan stimuli yang diberikan oleh faktor bawaan
5. Sekolah hendaknya melengkapi dengan: tenaga pengajar terlatih dengan baik, kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, metode mengajar yang sesuai serta bahan dan alat mengajar yang tepat.


Program khusus untuk pengajaran individual

Dalton Laboratory Plan
 Dicetuskan oleh Helen Parkhust
 Dilaksanakan mulai tahun 1920 pada tingkat sekolah menengah, dengan menekankan pada dasar-dasar kebebasan, interaksi kelompok, motivasi dengan pengertian sehingga memiliki inisiatif sendiri.

 Sekolah ibarat rumah. Ruang kelas dirubah menjadi laboratorium di mana fungsi guru ialah memelihara ‘suasana belajar’. Guru memberikan nasihat terhadap kegiatan yang dilakukan anak, menjawab pertanyaan, memimpin diskusi dengan siswa untuk hal-hal yang diinginkan siswa. Tugas siswa disusun dalam bentuk kontrak untuk masa satu bulan penuh. Siswa bebas dalam menyelesaikan tugasnya itu menurut caranya sendiri dengan bantuan guru, memberikan bimbingan dan siswa membuat sendiri catatan kemajuan yang dicapainya sehari-hari. Siswa juga diberikan kesempatan untuk kegiatan kelompok dalam pelajaran-pelajaran lain

Winnetka Plan
 Pencetusnya adalah Carlton Washburne pada tahun 1919.
 Dasar filosofi :siswa dibebaskan untuk mengikuti pelajaran yang telah dipilihnya sendiri dalam tiap-tiap mata pelajaran yang meliputi keseluruhan kurikulum yang ditempuhnya. Alasannya adalah untuk menemukan tingkatan belajar secara individual untuk tiap mata pelajaran dan pembentukan lebih lanjut atas dasar yang sudah ada. Washburne memulai dengan mengeja. Atas dasar tes pendahuluan yang diberikannya ia menemukan batas pelajaran yang belum diketahui anak. Selanjutnya siswa diberi tanggung jawab untuk menguasai nya sampai batas waktu tertentu. Demikian untuk pelajaran-pelajaran yang lain juga sama.



 Berbeda dengan Dalton Plan yang menempatkan siswa pada tingkat yang sama untuk seluruh pelajaran, Winnetka Plan memberi kebebasan pada anak untuk belajar pada kelas-kelas yang berbeda-beda dalam mata pelajaran yang berbeda-beda pula. Ia mungkin saja pada satu tahun maju dalam berhitung, enam bulan lagi maju dalam membaca dan mata pelajaran lain. Unit pelajaran disusun dalam bentuk tugas atau tujuan, Kemajuan yang dapat dicapai diteliti oleh siswa sendiri, dengan mempergunakan tes untuk diri sendiri. Dengan cara ini ia dapat mengetahui apakah ia telah siap untuk menempuh tes yang akan diberikan guru.
 Menurut Winnetka Plan tidak akan terjadi kegagalan selama anak mengukur kemajuannya sendiri tidak menggantungkan pada hasil yang dicapai oleh siswa lain. Di sini tidak akan terjadi peloncatan bagi anak yang cerdas, hanya ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang cepat, dan sebaliknya.

Metode Proyek
Sekelompok siswa yang bekerja sama dalam menyelesaikan suatu proyek, suasana belajar dapat diindividualisasikan untuk tiap anggota dalam batas-batas minat dan kesanggupannya. Saat ini sama dengan belajar dengan bekerja. Learning by doing.

Activity Program
Sistem belajar siswa aktif, mulai dari perencanaan sampai penilaian hasil.

Pengelompokan menurut kemampuan
Prinsipnya adalah bahwa anak dapat belajar lebih baik bila bersama-sama dengan peernya.

Metode-metode individualisasi yang lain
 Metode lompatan
 Memperkaya kurikulum
 Remedial



































transparansi

PERBEDAAN INDIVIDUAL


Perbedaan individual pada peserta didik

7. Usia kronologis
tingkat kematangan belajar peserta didik

8. Konstitusi fisik
9. Aspek psikologis
Aspek psikologis misalnya tingkat stabilitas emosi, temperamen/watak, motivasi, kreativitas, minat, dan sikap akan mempengaruhi kesuksesan belajar yang mungkin dicapai.
10. Kemampuan mental umum/inteligensi
Kemampuan mental umum yang ditunjukkan oleh hasil tes inteligensi memiliki pengaruh sebesar  20 % terhadap hasil belajar. Misalnya anak moron (IQ 50-70) hanya mampu menyelesaikan pendidikan setingkat SD. Seorang siswa dapat berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengah bila memiliki IQ 105 ke atas, dan untuk dapat berhasil pada pendidikan PT, mahasiswa harus memiliki IQ 115 ke atas. Beberapa kenyataan tentang hal ini adalah:
 Walaupun latar belakang lingkungan dan kondisi fisiknya menguntungkan, hal tersebut tidak cukup membantu siswa yang lambat dalam mencapai batas akhir pendidikan yang mungkin diikutinya secepat yang dilakukan oleh anak-anak normal atau superior.
 Pada kondisi yang baik dan menguntungkan siswa yang normal dapat diharapkan untuk sukses pada mata pelajaran-mata pelajaran tertentu.
 Jika kondisi-kondisinya baik dan menguntungkan, siswa yang superior dapat memperoleh sukses yang gemilang pada kegiatan belajarnya, sejauh ia berminat dan mempergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya.
 Jika kondisi-kondisinya tidak menguntungkan, termasuk sikap siswa terhadap situasi-situasi belajar, dapat menghalangi sukses yang mungkin dapat dicapai oleh setiap pelajar, baik yang cerdas maupun bodoh.

11. Kemampuan khusus/bakat.
Bakat adalah sifat atau kualitas yang merupakan satu aspek dari keseluruhan kepribadian individu. Bakat seseorang dapat dilihat melalui tes bakat. Selama SD, siswa lebih diutamakan untuk menguasai alat-alat belajar. Baru pada tingkat sekolah menengahpertama, menengah atas dan perguruan tinggi, perlu disediakan kegiatan dan perlengkapat untuk mengembangkan bakat anak.

12. Kesiapan belajar
Anak-anak pada usia yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan belajar yang sama. Perbedaan-perbedaan itu tidak saja disebabkan oleh bervariasinya kecepatan kematangan, tetapi juga oleh bermacamnya latar belakang yang mendahuluinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan individual

3. Faktor keturunan
Lihat buku PP

4. faktor lingkungan
 faktor sosial ekonomi
faktor ini meliputi tingkat pendidikan ortu, pekerjaan dan penghasilan ortu, fasilitas rumah, dsb
 faktor budaya
yang termasuk di sini adalah peraturan, harapan, keyakinan dan nilai-nilai yang membimbing tingkah laku. Budaya meliputi gaya hidup keseluruhan.
 Pola asuh orangtua
Penelitian White 91978) menunjukkan bahwa praktek-praktek tertentu dalam mendidik anak cenderung mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial dan kecakapan kognitif pada anak.
 Urutan kelahiran
Anak sulung: pandai mengendalikan diri, berorientasi pada orang dewasa, mudah menyesuaikan diri, cemas, takut gagal, cenderung berprestasi tinggi di sekolah.
Anak tunggal: mementingkan diri sendiri, tidak pandai bergaul
Anak tengah: ekstrovert, kurrang mempunyai dorongan berprestasi, dsb. Masih perlu banyak bukti untuk hal ini.
 Perceraian orangtua
Perceraian membawa perubahan-perubahan yang tidak menguntungkan bagi anak-anak.

Faktor keturunan dan lingkungan saling berpengaruh, jalin menjalin dan sulit dipisahkan. Manusia dipengaruhi oleh lingkungan tetapi juga menciptakan dan membentuk lingkungan. Pengaruh dari lingkungan itu bergantung pada berapa lama hal itu berlangsung, apa yang terjadi sesudah itu dan apa maknanya bagi seseorang. Selain itu juga penting untuk memperhatikan masalah waktu berlangsungnya interaksi.

Implikasi perbedaan individual dalam pendidikan

Fungsi sekolah
Seringkali dalam kelompok-kelompok siswa dalam sebuah kelas, terdapat individu-individu yang menyimpang dari norma-norma umum yang berlaku dalam kelompok itu. Sehingga dalam hal ini kita mengajar untuk individu, bukan untuk kelompok. Di sini pula sekolah berfungsi untuk mencurahkan perhatiannya dalam menggunakan sumber belajarnya untuk selalu diarahkan pada batas-batas yang dapat diusahakan untuk mewujudkan pelayanan yang memadai bagi setiap siswa tidak peduli bagaimana besarnya ia berbeda dari tiap-tipa pelajar yang lain. So, sekolah/guru harus memperhatikan:
 Menggunakan alat pengukuran yang akan membantu menemukan perbedaan-perbedaan seawal mungkin dan setepat-tepatnya.
 Siswa hanya akan memperoleh kesempatan untuk berhasil dengan sukses dalam batas-batas potensi mereka
 Faktor lingkungan fisik dan sosial merupakan penunjang bagi keberhasilan fungsi-fungsi perkembangan dan stimuli yang diberikan oleh faktor bawaan
 Sekolah harus melengkapi dengan: tenaga pengajar terlatih dengan baik, kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, metode mengajar yang sesuai serta bahan dan alat mengajar yang tepat.

Program khusus untuk pengajaran individual

Dalton Laboratory Plan
Dicetuskan oleh Helen Parkhust dan dilaksanakan mulai tahun 1920 pada tingkat sekolah menengah, dengan menekankan pada dasar-dasar kebebasan, interaksi kelompok, motivasi dengan pengertian sehingga memiliki inisiatif sendiri. Menurut Dalton Plan, sekolah ibarat rumah. Ruang kelas dirubah menjadi laboratorium di mana fungsi guru ialah memelihara ‘suasana belajar’. Guru memberikan nasihat terhadap kegiatan yang dilakukan anak, menjawab pertanyaan, memimpin diskusi dengan siswa untuk hal-hal yang diinginkan siswa. Tugas siswa disusun dalam bentuk kontrak untuk masa satu bulan penuh. Siswa bebas dalam menyelesaikan tugasnya itu menurut caranya sendiri dengan bantuan guru, memberikan bimbingan dan siswa membuat sendiri catatan kemajuan yang dicapainya sehari-hari. Siswa juga diberikan kesempatan untuk kegiatan kelompok dalam pelajaran-pelajaran lain

Winnetka Plan
Pencetusnya adalah Carlton Washburne pada tahun 1919. Dasar filosofinya adalah siswa dibebaskan untuk mengikuti pelajaran yang telah dipilihnya sendiri dalam tiap-tiap mata pelajaran yang meliputi keseluruhan kurikulum yang ditempuhnya. Alasannya adalah untuk menemukan tingkatan belajar secara individual untuk tiap mata pelajaran dan pembentukan lebih lanjut atas dasar yang sudah ada. Washburne memulai dengan mengeja. Atas dasar tes pendahuluan yang diberikannya ia menemukan batas pelajaran yang belum diketahui anak. Selanjutnya siswa diberi tanggung jawab untuk menguasai nya sampai batas waktu tertentu. Demikian untuk pelajaran-pelajaran yang lain juga sama.
Berbeda dengan Dalton Plan yang menempatkan siswa pada tingkat yang sama untuk seluruh pelajaran, Winnetka Plan memberi kebebasan pada anak untuk belajar pada kelas-kelas yang berbeda-beda dalam mata pelajaran yang berbeda-beda pula. Ia mungkin saja pada satu tahun maju dalam berhitung, enam bulan lagi maju dalam membaca dan mata pelajaran lain. Unit pelajaran disusun dalam bentuk tugas atau tujuan, Kemajuan yang dapat dicapai diteliti oleh siswa sendiri, dengan mempergunakan tes untuk diri sendiri. Dengan cara ini ia dapat mengetahui apakah ia telah siap untuk menempuh tes yang akan diberikan guru.

Menurut Winnetka Plan tidak akan terjadi kegagalan selama anak mengukur kemajuannya sendiri tidak menggantungkan pada hasil yang dicapai oleh siswa lain. Di sini tidak akan terjadi peloncatan bagi anak yang cerdas, hanya ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang cepat, dan sebaliknya.

Metode Proyek
Sekelompok siswa yang bekerja sama dalam menyelesaikan suatu proyek, suasana belajar dapat diindividualisasikan untuk tiap anggota dalam batas-batas minat dan kesanggupannya. Saat ini sama dengan belajar dengan bekerja. Learning by doing.

Activity Program
Sistem belajar siswa aktif, mulai dari perencanaan sampai penilaian hasil.

Pengelompokan menurut kemampuan
Prinsipnya adalah bahwa anak dapat belajar lebih baik bila bersama-sama dengan peernya.

Metode-metode individualisasi yang lain
 Metode lompatan
 Memperkaya kurikulum
 Remedial


Perkembangan Peserta Didik
Masa Remaja
Masa Remaja (11-21 th)
 Pembagian masa remaja:
 Remaja Awal (masa puber)
 Lk: 12-16 th
 Pr: 11 -15 th
 Remaja Akhir
 15/16 – 18/21 th
 Pengertian
 Remaja Awal : Suatu tahap perkembangan dimana terjadi kematangan alat seksual dan tercapainya kemampuan produksi
 Pubertas/puberty : remaja muda
 Pubic hair: rambut di kemaluan  mulai berfungsi organ reproduksi
 Remaja Akhir : Adolescence ; remaja lanjut
 Adolescere (latin) : kematangan psikis, tumbuh dewasa, terjadinya kematangan secara mental, emosional, sosial & fisik



Ciri Khas remaja
 Periode penting
 Masa peralihan
 Masa perubahan
 Masa mencari identitas diri
 Usia yang menakutkan
 Masa tidak realistis
 Masa Strom & Stress
 Ambang masa dewasa

Tugas Perkembangan
 Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
 Mencapai peran sosial pria dan wanita
 Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
 Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab
 Mempersiapkan karier ekonomi
 Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
 Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
Perkembangan Fisik
 Istilah untuk pertumbuhan fisik remaja:
 The Onset of pubertal growth spurt (masa kritis dari perkembangan biologis)
 The maximum growth age, berupa:
 Perubahan bentuk tubuh, ukuran, tinggi dan berat badan
 Proporsi muka dan badan
 Organisasi fisiologis seks
 Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja:
 Hormon mammotropik (pertumbuhan)
 Besar dan proporsi individu
 Hormon gonadotropik (kelenjar seks)
 Peningkatan kegiatan pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri seks primer dan sekunder

PENGARUH HORMON PADA PERTUMBUHAN FISIK REMAJA
Implikasi Percepatan Pertumbuhan pada perkembangan Psikoseksual
 Remaja lebih dekat dengan teman sebaya dibanding ortu
 Remaja diharapkan memenuhi tanggungjawab seperti orang dewasa tetapi sering gagal, timbullah masalah, frustasi dan konflik.
 Menimbulkan kegusaran hati yang paling dalam karena perhatian yang besar pada diri terutama kalau ada penyimpangan.
 Bagi yang cacat sering menghambat kepribadian

Perkembangan Psikoseksual
 Tanda-tanda pemasakan seksual
 Perbedaan kreteria pemasakan seksual
 Perbedaan permulaan pemasakan seksual
 Perbedaan urutan gejala pemasakan seksual
 Perkembangan percintaan remaja
Perkembangan Kognisi
 Konsep Kecerdasan
– Menurut Charles Spearman
– Menurut Trostone
– Menurut Wechler
 Pengukuran Kecerdasan

Perkembangan Kognitif Remaja
 Menurut Piaget remaja berada pada tahap Operasional formal, dengan ciri-ciri:
– Mampu mengoperasikan kaidah logika secara formal
– Sudah tidak terikat dengan objek yang sifatnya konkrit
– Ditandai dengan kemampuan berfikir abstrak, deduktif-induktif-hipotetik
– Dapat berfikir kombinatoris & berdasarkan alternatif
– Kemampuan mengembangkan sustu proporsi
– Kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai objek kategori yang beragam

Teori Vygotsky
 Perkembangan mental tergantung pada proses sosialnya, yaitu bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
 Proses mental terbagi menjadi 2 yaitu:
 Elementary: masa praverbal (selama anak belum menguasai verbal, menggunakan bahasa tubuhnya)
 Higher: masa setelah anak dapat berbicara (berhubungan dengan lingkungan secara verbal)
The Zone of Proximal Development
Perkembangan Emosi
 Disebut masa badai & topan (storm and stress) Heightened Emotionality, masa yang menggambarkan keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak.
 Kepekaan emosi yang meningkat sering diujudkan dalam bentuk:
– Lekas marah
– Suka menyendiri
– Kebiasan nervous: gelisah, cemas dan sentimen menggigit kuku, garuk-garuk dsb.

Faktor penyebab meningkatnya kepekaan emosi
 Perubahan sistem endokrim menyebabkan perubahan fisik
 Faktor nutrisi  ketegangan emosi
 Anemia apatis, disertai kecemasan dan lekas marah
 Kurang kalsium  lekas marah, emosi tidak stabil.
 Adanya cacat tubuh
 Hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga
 Kurangnya model dalam berperilaku
 Faktor sosial, tuntutan masyarakat yang terlalu tinggi
 Tidak dapat mencapai cita-cita  frustasi

Faktor penyebab meningkatnya kepekaan emosi
 Penyesuaian terhadap jenis kelamin lain
 Masalah-masalah sekolah: masalah penyesuaian diri, emosi, sosial, pertentangan dengan aturan sekolah
 Masalah pekerjaan  tidak menentunya kondisi sosial
 Hambatan kemauan
 Peraturan di rumah
 Norma-norma sosial
 Hambatan keuangan

Reaksi remaja terhadap Frustasi
 Agresi, ditujukan orang lain serangan fisik/kata-kata, ditujukan diri sendiri (menyakiti diri sendiri)
 Pengalihan emosi marah, emosi marah dialihkan ke objek lain tetapi dibalik punggung, kepada adik, ortu atu guru (tidak secara langsung)
 Withdrawl, menarik diri dalam lamunan atau alam fantasi.
 Regresi, kembali ke situasi masa perkembangan sebelumnya yang memberi kepuasan
 Kompensasi, mencari objek pemuasan di bidang lain sebagai pengganti kegagalan suatu bidang
 Fustrasi pendorong
– Tingkahlaku konstruktif (usaha lebih giat)
– Meninjau kembali cita-cita (menurunkan aspirasi)

Perkembangan Emosi Cinta
 Kelenjar kelamin masak, sehingga timbul perhatian terhadap lawan jenis
 Tahap-tahap perkembangan Emosi Cinta Remaja
– Crush, akhir masa kanak-kanak/awal remaja, mulai memuja orang lain yang lebih tua dari jenis seks yang sama, cinta bersifat pemujaan
– Hero Worshipping, cinta bersifat pemujaan ditujukan pada orang lain yang lebih tua, tetapi dari jenis kelamin yang berbeda & umumnya jarak jauh.
– Boy Crazy & Girl Crazy, Rasa cinta ditujukan pada teman sebaya, tidak hanya satu orang tetapi pada semua remaja & lawan jenisnya.
– Puppy Love (cinta monyet), Cinta remaja tertuju pada satu orang saja tapi sifatnya masih berpindah-pindah.
– Romantic Love, Remaja menemukan cinta yang tepat, sifat sudah lebih stabil, sering berakhir dengan perkawinan
Perkembangan Sosial
 Penerimaan sosial
 Kesan pertama
 Penampilan yang menarik
 Partisipasi sosial
 Perasaan humor yang dimiliki
 Ketrampilan berbicara
 Kecerdasan
 Pola orientasi sosial
 Withdrawal vs expansive
 Reactive vs aplacidity
 Passivity vs Dominant
Tujuan perkembangan Sosial
 Memperluas kontak sosial
 Mengembangan identitas diri
 Menyesuaikan dengan kematangan seksual
 Belajar menjadi orang dewasa
Teori Perkembangan Sosial
 Menurut Erikson, remaja termasuk pada tahap kelima yaitu pencarian identitas vs kebingungan identitas.
 Remaja pada tahap itu dihadapkan pada pencarian pengetahuan tentang dirinya, apa dan dimana serta bagaimana tentang dirinya.
 Tiga problem identitas remaja
– Kekaburan identitas
– Identity foreclosure
– Negative identity
– Respectively
 Marcia mengkategorikan identitas menjadi 4 yaitu:
– Identity achievement
– Moratorium
– Foreclosure
– Identity diffuse

Pokok bahasan 15

Interaksi Manusia dengan
Dunia sekitar


► Interaksi manusia supaya tertib diadakan norma-norma baik tertulis maupun tidak tertulis (adat istiadat)
► Dalam pergaulan, masing-masing individu saling mendewasakan diri, dimana ada saling take and give.
Interaksi manusia dapat digambarkan:
Keterangan:
S = Stimulus yang berasal dari dunia sekitar
O = Organisme
R = Respon
S sama belum tentu R sama, tergantung:
► Struktur jasmani/rokhani meliputi:
 Jenis kelamin: laki-laki yang kena rangsang marah, reaksinya melawan, sedang perempuan reaksinya menangis.
 Umur: anak kecil lapar kena rangsang makanan akan merebut, orang dewasa reaksinya menelan ludah.
 Perangai: orang pemarah akan mereaksi hinaan dengan kekuatan fisik.
 Pengalaman: orang yang berpengalaman akan melakukan tindakan dengan teliti, cepat dan tepat.
 Sikap batin yang menjiwai tugasnya: guru, pelukis, mahasiswa akan mereaksi berbeda terhadap tempat yang mempunyai pemandangan indah.

► Keadaan sementara yang dialami oleh ybs. Misalnya sedang sakit, lelah, gembira, sedih akan mereaksi berbeda terhadap stimulus yang sama.
► Keasyikan: memerlukan perhatian yang tertuju, sehingga rangsang lain tidak mendapat perhatian. Misalnya sedang asyik membaca, dipanggil tidak mereaksi.

► Sengaja harus mereaksi dengan tertentu terhadap rangsang yang diberikan. Misalnya seorang mata-mata harus mereaksi dengan memperlihatkan cermin ke arah matahari kalau ada pesawat kawan datang.
► Rangsang yang terlalu lemah atau terlalu kuat. Kedua rangsang yang ekstrem ini sama sekali malah mendapat tanggapan bagi ybs.

► Situasi diri dapat diekspresikan keluar dengan wajar dan dengan topeng (persona)

Keadaan pribadi mempengaruhi dunia sekitar dan memantul kembali pada diri sendiri

Contoh: kita menghadapi orang-orang yang mendapat musibah banjir (W), situasi susah mengenai sekitar (S), yang merangsang seseorang (O), karena orang tersebut telah mengetahui bahwa daerah itu rawan banjir, maka ia telah mempunyai persiapan batin bahwa sewaktu-waktu daerah tersebut akan banjir (Ow), maka orang tsb segera bereaksi (R) untuk memberikan sumbangan, ikut sedih, prihatin sesuai keadaan sekitar yang sudah sedih (W)
Kebutuhan manusia terhadap dunia sekitar
► Kebutuhan jasmani: makan, minum, udara, pakaian.
► Kebutuhan rokhani: ketenangan, keselarasan, kepuasan, kesenangan.
► Kebutuhan sosial: pergaulan, persahabatan, kasih sayang, simpati
Perkembangan manusia dipengaruhi dunia sekitar. Ada beberapa pendapat:
► Aliran Nativisme  perkembangan tergantung pembawaan, pengaruh lingkungan kurang berperan. Tokoh: Schoppenhauer.
► Aliran Empirisme  pengaruh lingkungan sangat menentukan perkembangan pribadi seseorang. Tokoh: John Locke. Teorinya Tabularasa (meja lilin)
► Aliran Konvergensi  perkembangan dipengaruhi pembawaan dan lingkungan. Tokoh: William Stern.
► Interaksi  perkembangan hasil dari interaksi antara pembawaan dan lingkungan. Tokoh: Piaget.

BAB VI
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
PENGERTIAN
 DIAGNOSIS : Penentuan jenis masalah atau kelainan atau ketidakmampuan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak
 KESULITAN BELAJAR : suatu gejala yg nampak pd peserta didik yg ditandai dgn adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah norma yang telah ditetapkan
Diagnosis Kesulitan Belajar
Adalah proses menentukan masalah atau ketidak mampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara meganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan (berasal dari faktor fisiologik, psikologik, instrumen dan lingkungan belajar) belajar yang tampak.
PERMASALAHAN BELAJAR
( Warkitri,1990)
 Kekacauan belajar; anak tidak dapat mengusai bahan dengan baik karena respon bertetangan.
 Ketidakmampuan belajar;anak menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab.
 Learning disfunctions
 Under Achiever
 Slow Learner

Kedudukan Diagnosisi Kesulitan Belajar
 Keberhasilan belajar : peserta didik menguasai bahan pelajaran dengan baik (65%-100%)
 Belum berhasil : peserta didik gagal/ belum berhasil dalam mengusai bahan pelajaran= harus mendapat perhatian khusus oleh guru,
 guru harus membantunya dgn cara meneliti jenis dan letak kesulitan belajar yg dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran

Hasil Belajar dipengaruhi:
(John Carol)
 Waktu yg tersedia
 Usaha yg dilakukan peserta didik
 Bakat yg dimiliki peserta didik
 Kualitas pengajaran atau tingkat kejelasan pengajaran
 Kemampuan peserta didik untuk memanfaatkan keseluruhan proses belajar yg dialami dengan optimal
PESERTA DIDIK YANG BERKESULITAN BELAJAR
 Blassic dan jones (76): ditunjukkan dlm karakteristik behavioral, fisikal, bicara dan bahasa, intelektual dan prestasi belajar.
 Sumadi S : diketahui dari:
 Grade level
 Age level
 Intellegensi level
 General level
Lanjutan…
 Adanya gangguan: aktivitas motorik, emosional, prestasi, persepsi, tidak dapat menangkap arti, membuat, menangkap simbol, perhatian, tidak dapat memperhatikan, tidak dapat mengalihkan perhatian dan gangguan ingatan.

Gejala kesulitan belajar:
 Prestasi belajar rendah
 Usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan hasil
 Lamban dalam mengerjakan tugas dan terlambat menyelesaikan/ menyerahkan tugas
 Sikap acuh dalam mengikuti pelajaran dan sikap kurang wajar
 Menunjukkan perilaku menyimpang dari perilaku teman seusianya; suka membolos, enggan mengerjakan tugas, tidak dapat bekerjasama, terisolir, tidak konsentrasi, tidak semangat
 Emosional: mudah tersinggung, marah, pemurung, minder
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
 Faktor internal (IQ, afeksi seperti perasaan, PD, motivasi, kematangan utk belajar, usia, jenis kelamin, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, kemampuan mengindra)
 Faktor eksternal (guru, kualitas pembelajaran, instrumen atau fasilitas, lingkungan)
Noehi NAsution :
 Rendahya kemampuan intelektual
 Gangguan perasaan/ emosi
 Kurang motivasi belajar
 Kurang matang anak untuk belajar
 Usia yg terlampau muda
 Sosial tidak menunjang
 Kebiasaan belajar tidak bagus
 Gangguan indera
 Proses belajar tidak sesuai n tidak ada dukungan dr lingkungan belajar
Scra garis besar lihat di hal 180
 Raw input : peserta didik
 Learning teaching process
 Enviromental Input : faktor lingkungan
 Instrumental input : sarana dan prasarana penunjang PBM
 Output: peserta didik sbg hasil proses pembelajaran
Pengenalan Kesulitan Belajar
 Teknik tes (psikologi, performance,prestasi belajar)
 Teknik Non-tes:
 Wawancara
 Observasi
 Angket
 Sosiometri
 Dokumentasi
 Pemeriksaan fisik dan kesehatan

PRASANGKA
ARI
JUR PPB PRODI BK
Definisi
 Prasangka adalah sikap negatif yang tidak dapat dibenarkan/dipertanggung jawabkan terhadap suatu kelompok atau anggotanya.
 Prasangka adalah sikap, emosi, atau perilaku negatif terhadap anggota suatu kelompok karena kenaggotaannya dalam kelompok tersebut (Rupert Brown)

Definisi
 Streotype adalah keyakinan mengenai sifat pribadi dari sekelompok orang. Stereotipe dapat overgeneralisasi, tidak akurat, serta resisten terhadap informasi baru
Definisi
 Diskriminasi adalah perilaku yang diarahkan pada seseorang yang didasarkan semata-mata pada keanggotaan kelompok yang dimilikinya.
Definisi
 Rasisme adalah prasangka dan perilaku diskriminasi terhadap seseorang karena rasnya; praktek-praktek lembaga yang menempatkan lebih rendah terhadap orang karena rasnya.
Definisi
 Seksisme adalah prasangka dan perilaku diskriminasi terhadap seseorang karena jenis kelaminnya.
 Seksisme adalah suatu sikap, tindakan, atau struktur kelembagaan masyarakat yang lebih mengutamakan suatu jenis kelamin tertentu (biasanya laki-laki) untuk menjadi anggota, staf, atau pimpinan suatu unit organisasi tertentu.
Penyebab Prasangka
 Sumber-sumber sosial
a. Ketimpangan sosial
- status yang timpang
Misalnya majikan dan pembantu
- agama
Peran agama paradoks (menyebabkan
dan tidak menyebabkan prasangka)

Penyebab Prasangka
b. Ingroup & Outgroup
- Ingroup adalah “kita”—sekelompok
orang yang saling merasa memiliki;
perasaan memiliki identitas tertentu
- Outgroup adalah “mereka”—kelompok
yang orang-orangnya kita anggap berbeda
dengan kelompok kita
- ingroup bias: kecenderungan untuk menyukai/
memperlakukan kelompok sendiri lebih baik

Penyebab Prasangka
c. Konformitas
Jika prasangka diterima secara sosial,
orang akan mengikutinya
d. Dukungan Lembaga
Pemisahan merup salah satu cara yang
dilakukan lembaga (sekolah,
pemerintah, media) yang menumbuhkan
prasangka
Penyebab Prasangka
2. Sumber-sumber emosional/Kepribadian
a. Frustrasi dan agresi
- nafsu
- realistic group conflict
- relative deprivation theory

Penyebab Prasangka
b. Dinamika kepribadian
- Kebutuhan akan status.
- Kepribadian otoritarian:
ketaatan yang kaku pada nilai & pola
perilaku konvensional, kebutuhan untuk
tunduk pada otoritas yang kuat, rasa
permusuhan yang dugeneralisasikan,
pemikiran yang diwarnai mistik/takhayul

Penyebab Prasangka
3. Sumber-sumber kognitif
a. Kategorisasi
b. Orang yang berbeda
c. Kesalahan atribusi fundamental
Mengurangi Prasangka
 Belajar tidak membenci
 Hipotesis kontak
Peningkatan kontak antara anggota dari berbagai kelompok sosial dapat efektif mengurangi prasangka
 Hipotesis kontak yang diperluas
Hanya dengan menogetahui bahwa anggota kelompoknya sendiri telah membentuk pesahabatan dengan anggota outgroup dapat mengurangi prasangka

SIKAP
Definisi
 Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan /’Derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis’ (Thurstone)
 Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu (Bogardus, La Pierre, Allport)
 Sikap adalah konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek (kelompok yang berorientasi pada skema triadik)
Struktur Sikap
1. Komponen Kognitif
• Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.
• Kepercayaan datang dari apa yang dilihat, diketahui, pengalaman pribadi, cerita orang, atau karena kurang informasi.
Struktur Sikap
2. Komponen Afektif
• Menyangkut masalah emosional subjektif terhadap suatu objek sikap/perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
• Dipengaruhi oleh kepercayaan/ apa yang dipercayai benar bagi objek sikap
Struktur Sikap
3. Komponen Konatif
• Bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap
• Dipengaruhi oleh kepercayaan dan perasaan terhadap objek sikap
Interaksi Komponen-Komponen Sikap
 Selaras dan konsisten
 Jika tidak selaras akan terjadi mekanisme perubahan sikap, sehingga menjadi Konsisten dan selaras
Hubungan Sikap dan perilaku
1. Postulat Konsistensi
Ada hubungan langsung antara sikap dan perilaku
2. Postulat Variasi Independen
Tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa sikap dan perilaku berhubungan secara konsisten
3. Postulat Konsistensi Tergantung
Hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan faktor-faktor situasional tertentu (norma, peranan, keanggotaan kelompok, kebudayaan, dll)
Faktor-faktor yang menghubungkan sikap dan perilaku:
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
 Pengalaman Pribadi
 Orang lain yang dianggap penting
 Kebudayaan
 Media Massa
 Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
 Faktor Emosional
Teori Perubahan Sikap (Kelman)
Tiga Proses Perubahan Sikap:
1. Kesediaan
 Individu bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau dari kelompok lain
 Sekedar memperoleh pujian, dukungan dan simpati
 Tidak tahan lama
Teori Perubahan Sikap (Kelman)
2. Identifikasi
• Individu meniru perilaku atau sikap kelompok lain karena sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang menyenangkan antara dia denganpihak lain tersebut
Teori Perubahan Sikap (Kelman)
3. Internalisasi
 Individu menerima pengaruh dan bersedia bersikap mengikuti pengaruh itu karena sikap tersebut sesuai dengan apa yang ia percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya.
Pengukuran Sikap
 Observasi Perilaku
 Penanyaan langsung
 Pengungkapan Langsung
 Skala Sikap
 Pengukuran Terselubung
Kaidah-Kaidah Penulisan Pernyataan Sikap
 Hindarkan pernyataan yang menunjuk pada masa lampau
 Hindarkan pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu macam
 Hindarkan pernyataan yang tidak relevan dengan objek yang akan diungkap
 Hindarkan pernyataan yang mungkin akan dibenarkan oleh setiap orang atau sebaliknya tidak seorangpun
 Pilihlah pernyataan yang telah anda percaya mampu menjangkau skala afeksi
Kaidah-Kaidah Penulisan Pernyataan Sikap
 Jagalah agar penggunaan bahasa dalam pernyataan itu sederhana dan jelas
 Pernyataan diusahakan singkap, pendek, tidak lebih dari dua puluh kata
 Satu pernnyataan diusahakan berisi hanya satu masalah yang sifatnya lengkap
 Pernyataan berisi suatu yang sifatnya umum
 Pernyataan disusun dalam kalimat yang sederhana, tidak kompleks
 Hindarkan penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti responden
 Hindarkan penggunaan istilah yang double negatives

Macam-Macam Skala Sikap
 Skala Likert
 Skala Thurstone
 Skala Bogardus

Teori Belajar Konstruktivistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran
Oleh
ARIYADI WARSITO
Karakteristik Manusia Masa Depan
• Manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggungjawab terhadap resiko dalam pengambilan keputusan, belajar terus menerus, mampu kolaborasi

• Berpikir kreatif-produktif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, Belajar bgmn belajar, pengendalian diri
Konstruksi Pengetahuan
• Apa pengetahuan ?, konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungan, bukan kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari.
• Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain, tetapi melalui proses interpretasi dan konstruksi melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
• Proses mengkonstruksi pengetahuan
– Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman.
– Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
– Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada lainnya.
Proses Belajar menurut Teori Konstruktivistik
• Proses belajar konstruktivistik, bukan sebagai proses perolehan informasi yang berlangsung satu arah ke dalam diri siswa, melainkan pemberian makna oleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi
• Peranan Siswa, Pembentukan pengetahuan dilakukan oleh si belajar, aktif melakukan kegiatan, berpikir, menyusun konsep dan memberi makna. Kemampuan awal menjadi dasar pembelajaran & pembimbingan.
• Peranan Guru, membantu agar proses mengkonstruksi belajar oleh siswa berjalan lancar. Yang meliputi:
– Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
– Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
– Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
Sarana Belajar & Evaluasi Belajar (lanjutan proses pembelajaran)
• Peranan utama dalam belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan sendiri, sehingga sarana belajar disediakan untuk membantu pembentukan kemampuan tersebut.
• Evaluasi belajar, menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik.
Perbandingan pembelajaran tradisional (behavioristik) dan Konstruktivistik

sumber: kuliah psikologi pendidikan Bpk. Haryadi.
Universitas Negeri Yogyakarta.

Read More...

Joint with me.



Statistik




Dari yg online:

Your IP

IP

Powered by

List View

 

Copyright 2011. Peter Pakpahan