counter free statistics Post Comments

Selamat Datang Di Web Blog Saya. Silahkan Melihat-lihat isi didalamnya, Copy Paste lah sebanyak-banyaknya, tapi jangan lupa DILAMPIRIN SUMBER nya. O iya... Komentarnya nya wajib di isi...!! Terima kasih.

6.10.2010

KONSEP DAN PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH SMK-BI


Oleh:
Prof. Slamet PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D

KEHIDUPAN DICIPTAKAN OLEH-NYA SERBA BERPASANG-PASANGAN
Adanya keinginan yang didorong oleh kebutuhan (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan (akibat);
Ada tujuan SMK yang ingin dicapai (sebab) dan ada upaya-upaya untuk mencapai tujuan SMK (akibat);
Upaya-upaya tersebut ditempuh secara sistem (utuh & benar), dengan catatan utuh dan benar menurut Hukum-Hukum Ketetapan Nya

TUJUAN SMK-BI
Mengembangkan kualitas dasar siswa SMK-BI (daya pisik, daya pikir, dan daya qolbu)
Mengembangkan kualitas instrumental (penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta jiwa kewirausahaan) yang diperlukan untuk bekerja pada bidang keahlian tertentu, nasional & internsional
Mengembangkan jati diri sebagai warga bangsa Indonesia
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia

PENGEMBANGAN KUALITAS SISWA SMK-BI
Kualitas Siswa SMK-BI
Kualitas Dasar
Kualitas Instrumental
Daya pikir
Daya qolbu
Daya pisik
Kualitas ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta jiwa kewirausahaan untuk bekerja

PENGEMBANGAN KUALITAS DASAR SISWA SMK-BI
Berfikir Analitis
Berfikir Kritis
Berfikir Kreatif
Berfikir Deduktif
Berfikir Induktif
Berfikir Ilmiah
Berfikir Nalar
Berfikir Lateral
Berfikir Sistem

1.Daya Pikir
Iman & Takwa terhadap Tuhan YME
Rasa kasih sayang
Kesopanan
Toleransi
Kejujuran & kebersihan
Disiplin diri
Harga diri
Tanggung jawab
Respek thd. diri sendiri & orang lain

2.Daya Qolbu
Integritas
Keberanian moral
Kerajinan
Kesehatan
Ketahanan
Kestaminaan
Keterampilan (kejuruan, olah raga, dsb.)
3.Daya Pisik (Kinestetika)
Pengembangan Kualitas Instrumental (IPTEKS)
IPTEKS

Ilmu Keras:
Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Astronomi

Ilmu Lunak:
Sosiologi
Politik
Ekonomi
Psikologi
Antropologi
Seni
Dsb.

Teknologi:
Konstruksi
Manufaktur
Transportasi
Komunikasi
Bio
Energi
Bahan

Rekayasa Sosial:
Pemerintahan
Kebijakan
Manajemen
Tata Kelola
Kepemimpinan
Perpolitikan
Perekonomian
Dsb.

PENGEMBANGAN JATI DIRI SEBAGAI WARGA BANGSA INDONESIA
Memahami, menyadari, menjadikan hati nurani, mewajibkan hati nurani, mencintai dan bertindak nyata dalam mempertahankan dan mengembangkan jati diri bangsa Indonesia
Mampu menangkal manakala terjadi benturan antar nilai akibat globalisasi
Melestarikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia (preservatif) dan sekaligus terbuka terhadap gesekan dengan kemajuan negara lain (progresif)

MENJAGA KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERKEMBANGAN DUNIA
Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia melalui wadah-wadah kolektif yang telah ada (PBB dan cabang-cabangnya)
Secara aktif berperan dalam pem-bangunan dunia yang berkelanjutan dari perspektif sosio-budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup
Secara proaktif ikut menjaga perdamaian dan ketertiban dunia

UPAYA-UPAYA YANG DITEMPUH UNTUK MENCAPAI TUJUAN SMK-BI
Upaya-upaya untuk mencapai tujuan SMK-BI ditempuh melalui pendekatan “sistem” (utuh dan benar)
SMK-BI dapat dikategorikan seolah-olah sebagai “sistem” karena memenuhi kriteria sebagai sistem yaitu: (1) utuh dan benar, dan (2) ada tujuan yang ingin dicapai dan ada upaya-upaya untuk mencapainya

SMK-BI SEBAGAI SISTEM
Secara visual, SMK-BI sebagai sistem dapat digambarkan sebagai berikut. Jika kita ingin menganalisis, kita mulai dari outcome, output, proses, input, dan berakhir pada konteks. Sebaiknya, jika kita ingin melakukan langkah - langkah pemecahan persoalan atau menyiapkan, maka arahnya terbalik, yaitu dimulai dari konteks, input, proses, output, dan berakhir pada outcome. Inilah cara berpikir sistem yang runtut.
Kualitas dan Inovasi
Efektifitas
Produktifitas
Efisiensi Internal
Efisiensi Eksternal

Konteks
1.Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan
2.Dukungan pemerintah & masyarakat
3.Kebijakan pemerintah.
4.Landasan hukum
5.Kemajuan ipteks
6.Nilai & harapan masyarakat
7.Tuntutan otonomi
8.Tuntutan globalisasi

Input
1. Kurikulum
2. Pendidik & Tenaga Kependidikan
3. Sarana & Prasana
4. Peserta didik
5. Dana
6. Regulasi
7. Organisasi
8. Administrasii
9. Peranserta masyarakat
10. Kultur sekolah

Komponen
Sub-komponen
Proses
1. Proses belajar mengajar
2. Penilaian
Output
1. Prestasi akademik
2. Prestasi non akademik
3. Angka mengulang
4. Angka putus sekolah
Outcome
1. Kesempatan pendidikan
2. Kesempatan kerja
3. Pengembangan diri lulusan
Catatan:
Manajemen SMK-BI berada pada seluruh komponen sekolah sebagai sistem, yaitu konteks, input, proses, output, outcome, dan dampak karena manajemen berurusan dengan sistem, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoor-dinasian hingga sampai pengontrolan/ pengevaluasian pada semua komponen SMK-BI
Kepemimpinan berada pada komponen manusia, baik pendidik dan tenaga kependidikan, maupun peserta didik, karena kepemimpinan berurusan dengan manusia
Sebelum membahas MBS, berikut disampaikan karakteristik SMK, prinsip-prinsip pendidikan kejuruan, enter-preneurship dan networking karena mereka merupakan bacaan penting bagi pengembangan SMK-BI.

KARAKTERISTIK SMK
SMK diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja
SMK didasarkan atas “demand-driven” (kebutuhan dunia kerja)
Fokus pendidikan di SMK ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja
Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan siswa harus pada “hands-on” atau kinerja di dunia kerja
Hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses SMK
SMK yang baik adalah yang responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi
SMK lebih ditekankan pada belajar dengan melakukan dan pengalaman langsung di tempat kerja
Belajar dengan melakukan di SMK memerlukan fasilitas yang relevan dan mutakhir untuk praktek
SMK memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN KEJURUAN DI SMK (PROSSER, 1925)
Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nanti ia akan bekerja
Pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan ditempat kerja
Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia melatih seseorang dalam kebiasaan berfikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri
Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia dapat memampukan setiap individu memodali minatnya, pengetahuannya dan keterampilan-nya pada tingkat yang paling tinggi
Pendidikan kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanya dapat diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya dan yang dapat untung darinya
Pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar diulangkan sehingga pas seperti yang diperlukan dalam pekerjaan nantinya
Pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan
Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut
Pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja)
Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata (pengalaman sarat nilai)
Sumber yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu pekerjaan tertentu adalah dari pengalaman para ahli pada okupasi tersebut
Setiap pekerjaan mempunyai ciri-ciri isi (body of content) yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya

Pendidikan kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jika dilakukan lewat pengajaran kejuruan
Pendidikan kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan dan hubungan pribadi dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut
Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien jika dia luwes dan mengalir dari pada kaku dan terstandar
Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi

ENTERPRENEURSHIP, NETWORKING, TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (ICT), DAN BAHASA ASING SERTA BUDAYA LINTAS BANGSA PADA SMK-BI

KARAKTERISTIK ENTERPRENEURS
Bersikap dan berpikir mandiri
Memiliki sikap berani menanggung resiko
Tidak suka mencari kambing hitam.
Selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumberdaya
Terbuka terhadap umpan balik
Selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik (meningkatkan/mengembangkan)
Tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya
Memiliki tanggungjawab moral yang baik

MENGAPA ENTERPRENEURSHIP SMK-BI?
Sebagai model baru, SMK-BI memerlukan orang-orang yang proaktif, kreatif, inovatif dan memiliki prakarsa (keberanian moral) yang tinggi untuk melakukan perubahan-perubahan dari SMK Standar Nasional menuju SMK-BI.

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN NETWORKING SMK-BI ITU?
Yang dimaksud dengan networking dalam SMK-BI adalah jaringan kerjasama antar SMK-BI, SMK-SBI dengan institusi-institusi lain di dalam maupun di luar negeri serta bentuk-bentuk sinergi positif dalam rangka untuk memajukan SMK-BI.

MENGAPA PERLU NETWORKING?
Networking antar SMK-BI diperlukan dalam rangka untuk saling belajar dari keber- hasilan atau saling tukar pikiran terhadap praktek-praktek yang baik untuk dapat dipetik menjadi pelajaran bagi SMK-BI (best practices and lessons learned). Selain itu, bentuk-bentuk sinergi positif antar SMK-BI akan saling menguntungkan satu sama lain.
Networking dengan institusi-institusi di dalam negeri sangat diperlukan dalam rangka untuk memperkuat SMK-BI karena banyak institusi-institusi dalam negeri yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan bagi pengembangan SMK-BI. Perguruan tinggi, pusat-pusat penelitian, lembaga-lembaga kursus dan pelatihan adalah contoh institusi-institusi yang layak untuk diajak kerjasama dalam bentuk-bentuk sinergi positif.
Networking dengan institusi-institusi di luar negeri, misalnya sekolah, pusat-pusat pelatihan SEAMEO, IMO, dan DU/DI sangat penting untuk dilakukan dalam rangka untuk menyerap potensi mereka agar SMK-BI secara tegar memiliki mutu yang bertaraf internasional.
Konsekwensinya, SMK-BI harus memiliki web-site atau jaringan komunikasi elektronik yang mutakhir dan canggih yang siap untuk berkomunikasi secara internasional.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Memiliki perangkat lunak dan perangkat keras (soft and hardware)
Melatih guru, karyawan, siswa dalam menggunakan TIK
Mendanai penerapan TIK di sekolah
TIK harus ada dalam struktur organisasi sekolah
Pimpinan sekolah dan orangtua siswa mendukung penggunaan TIK

PEMANFAATAN TIK/ICT DI SEKOLAH
Internet (web-site) atau e-schooling
Penerimaan siswa baru (on line)
Kurikulum melalui on line
Proses belajar mengajar (TIK di kelas dan juga bisa on line/e-learning)
Penilaian siswa
Administrasi sekolah
Perpustakaan digital termasuk clearing house
Membangun jaringan antar sekolah (domestik dan internasional)

PENYIAPAN PENGUASAAN BAHASA ASING DAN BUDAYA LINTAS BANGSA
Mengursuskan bahasa Inggris kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa
Menyiapkan laboratorium bahasa Inggris di sekolah
Mempelajari budaya lintas bangsa melalui berbagai acara/pertemuan/ events yang dirancang secara cermat

OTONOMI DAERAH
Urusan pemerintahan terdiri atas pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan (PP 38/2007 Pasal 2 ayat 1)
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah sebagai-mana dimaksud pada ayat (10) meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama (PP 38/2007 Pasal 2 ayat 2)

PP 38/2007 Pasal 2 ayat (3): Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimana pendidikan merupakan salah satunya

OTONOMI PENDIDIKAN
Otonomi pendidikan adalah hak dan kewajiban (kewenangan dan tanggung-jawab) mengenai fungsi-fungsi publik di bidang pendidikan yang diserahkan oleh pemerintahan pusat kepada pemerintah-an daerah.
TujuanOtonomi Pendidikan
Otonomi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan yang meliputi pemerataan, mutu, relevansi, efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan.
Penyelenggaraan Otonomi Pendidikan
Pendidikan tidak lagi semata-mata merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintahan pusat, akan tetapi
Dibagi bersama antar tingkatan pemerintahan dan disebar/didistribusi ke pemerintahan daerah; hegemoni pemerin-tahan pusat menjadi pudar; keseragaman dan komonalitas menjadi kerdil; sebaliknya kebhinekaan disuburkan namun harus tetap dalam bingkai peraturan perundang-undangan yang berlaku secara nasional; mentalitas sentris dijangkar jauh-jauh, sebaliknya prakarsa dan kreativitas yang selama ini terpasung ditumbuh-kembangkan; struktur organisasi yang semula sangat hirarkis dan gemuk dipangkas menjadi
datar dan langsing; administrasi berlebihan dan manajemen yang kurang peka atau tanggap direvitalisasi; dan subordinasi mutlak diperbaiki menjadi kesetaraan.

Pola Baru Manajemen Pendidikan Kejuruan
Pola Lama Pola Baru
Subordinasi
Pengambilan keputusan terpusat
Ruang gerak kaku
Pendekatan birokratik
Sentralistik
Diatur
Over regulasi
Mengontrol
Mengarahkan
Menghindari resiko
Gunakan uang semuanya
Individual yang cerdas
Informasi terpribadi
Pendelegasian
Organisasi herarkis
Otonomi
Pengambilan keputusan partisipatif
Ruang gerak luwes
Pendekatan profesional
Desentralistik
Motivasi diri
Deregulasi
Mempengaruhi
Memfasilitasi
Mengelola resiko
Gunakan uang seefisiennya
Teamwork yang cerdas
Informasi terbagi
Pemberdayaan
Organisasi datar

OTONOMI SEKOLAH
Otonomi = kemandirian = swa (swakelola, swadana, swasembada, swakarya, swalayan, dsb). Kemandirian adalah sifat tak tergantung pada pihak lain. Menurut para ahli, kemandirian memiliki 5 komponen utama yaitu: (1) bebas, yakni tumbuhnya tindakan atas kehendak sendiri dan bukan karena pihak lain; (2) progresif dan ulet, seperti tampak pada usaha mengejar prestasi, penuh ketekunan, meren-canakan dan mewujudkan harapan-harapan-nya; (3) berinisiatif, yakni mampu berpikir dan bertindak secara asli/ orisinal/baru, kreatif dan

penuh inisiatif; (4) pengendalian dari dalam, yakni kemampuan mengendali-kan diri dari dalam, kemampuan mempengaruhi lingkungan atas pra-karsanya sendiri; dan (5) kemantapan diri, yang ditunjukkan oleh harga diri dan percaya diri. Jadi, sekolah mandiri artinya sekolah yang memiliki otonomi (kewenangan dan tanggungjawab) yang signifikan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam menyelenggarakan sekolah.
Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks Indonesia, kemandirian sekolah yang di-maksud haruslah tetap dalam bingkai/ koridor visi, misi, tujuan, norma, standar, prosedur, kriteria, dan kebijakan-kebijakan pendidikan nasional. Dalam arti yang hakiki, tidak ada kemandirian sekolah yang bersifat mutlak.
Otonomi manajemen sekolah dapat diartikan sebagai kemandirian pengelolaan urusan-urusan sekolah berdasarkan kemampuan, kebutuhan dan karakteristik yang dimiliki oleh sekolah tetapi tetap dalam sistem pendidikan nasional. Model ini disebut manajemen berbasis sekolah (MBS). Dalam MBS, sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang signifikan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri.

Kemandirian sekolah akan terwujud jika dua hal berikut memiliki tingkat kesiapan yang memadai yaitu kemampuan dan kesanggup-an. Kemampuan meliputi kemampuan sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, perbekalan, dsb.), manajemen, organisasi, kepemimpinan dan administrasi. Dalam konteks topik kita hari ini, kemampuan manajemen merupakan fokus perhatian (bukan berarti yang lain tidak penting). Kesanggupan sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang bersumber dari kebutuhan. Oleh karena itu, agar tercapai tingkat kesiapan kesanggupan yang memadai, perlu diupayakan pemenuhan kepentingan yang bersumber dari kebutuhan.

School Based Management
Site Based Management
School Based Initiatives
Self-Managing School
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Pengelolaan Berbasis Sekolah
Manajemen Berbasis Madrasah

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
KONSEP “MBS”
MBS adalah model pengelolaan sekolah berdasarkan kekhasan, kebolehan, kemampuan dan kebutuhan sekolah. Dengan batasan seperti ini, maka MBS menjamin adanya keberagaman dalam pengelolaan sekolah, tetapi harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Tidak ada lagi penekanan pada keseragaman dan dijamin adanya keberagaman. Dalam MBS, sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab lebih besar dalam menyelenggarakan urusan-urusan sekolah, misalnya (proses belajar mengajar, kurikulum, ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, dsb.) akan tetapi harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional (pusat).

Dua hal yang merupakan inti manajemen berbasis sekolah pada SMK yaitu fungsi manajemen dan substansi/ urusan SMK
FUNGSI – FUNGSI MANAJEMEN SMK
Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengkoordinasian
Pengevaluasian/Pengontrolan

URUSAN-URUSAN SMK
1. Urusan PBM (Pokok)
2. Urusan Kurikulum
3. Urusan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
4. Urusan Kesiswaan
5. Urusan Sarana dan Prasarana
6. Urusan Regulasi Sekolah
7. Urusan Keuangan dan Akuntansi
8. Urusan Administrasi
9. Urusan Penilaian
10. Urusan Hubungan SMK - DU/DI
11. Urusan Komite Sekolah
12. Urusan Pengembangan Kultur Sekolah
13. Urusan Kesekretariatan/Kearsipan

MATRIK MBS - SMK
Fungsi
Urusan
Golongan Faktor Untuk Setiap Urusan
URUSAN
SD
FM
Sdm
Sd-Slbh
R
O
P
K
Sdm - M
Sdm - S
Sdm - P
Pa
Pl
Pb
Bahan
E
Uang


Asumsi MBS pada SMK
Pembaruan yang direncanakan dan diimplementasikan secara terpusat sering tidak mampu memperbaiki inti kegiatan sekolah yaitu proses belajar mengajar;
SMK membutuhkan dukungan sumber-daya pendidikan yang ajeg dan konsisten, tetapi pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten tidak mampu memenuhinya;
Setiap SMK memiliki kekhasan, keunikan, kebolehan, kemampuan dan kebutuhan yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya;
SMK bukan sekedar subordinasi/ pelaksana program-program dari atas, akan tetapi mereka merupakan gardan terdepan yang harus diberdayakan dalam pengambilan keputusan, dan pengelolaan secara mandiri;
SMK paling tahu permasalahan dan kebutuhannya sendiri;
Pengambilan keputusan oleh SMK akan lebih sesuai dengan kepenting-annya

KARAKTERISTIK MBS
MBS yang ideal memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) fungsi-fungsi manajemen jelas, (2) urusan-urusan sekolah komprehensif, (3) pola manajemen sekolah yang desentralistik diterapkan, (4) tata kelola yang baik diterapkan, (5) pemantauan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilakukan secara cermat, dan (6) siklus pengembangan manajemen sekolah diterapkan.

TUJUAN MBS
Tujuan utama MBS adalah untuk meningkatkan kinerja sekolah secara optimal melalui penerapan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Kinerja sekolah meliputi kualitas, inovasi, efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum, keadilan, efektifitas, efisiensi, demokrasi profesionalisme, dan kepastian jaminan mutu.

PELAKSANAAN “MBS”
Setiap SMK-BI harus menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS/RKAS) sebagai bentuk jaminan mutu pendidikan, baik RPS/RKAS jangka menengah/renstra (5 tahun) maupun jangka pendek (1 tahun) dan RPS/RKAS disusun berdasar-kan kebutuhan dan kemampuan sekolah;
Menata kembali organisasi SMK-BI agar kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran, pelibatan warga sekolah dan masyarakat/DU/DI, dan terhindar dari jalan berliku untuk mengambil keputusan di tingkat sekolah;

SMK-BI melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program untuk memastikan kepatuhannya terhadap RPS/RKAS yang telah disusun;
SMK-BI melakukan koordinasi dan sinkronisasi unit-unit yang ada di sekolah dalam rangka membangun tim kerja yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah;
SMK-BI melakukan evaluasi pendidikan di sekolahnya secara komprehensif (input, proses, dan output) setelah melaksanakan MBS;
PRA & PASCA MPMBS ?

SEBELUM SESUDAH
Output
(NUN, olah raga, kesenian, dsb.)
Proses
(pembelajaran, bimbingan, dsb.)
Input
(guru, materi ajar, sarpras, dsb.)
Prinsip-prinsip MBS
Rencana Pengembangan Sekolah
(desain, pelaksanaan, hasil)

SMK-BI melakukan pengembangan kapasitas sekolah, baik kelembagaan maupun sumberdayanya (sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya) melalui berbagai cara: pelatihan, diskusi kelompok terfokus, lokakarya, dsb.
SMK-BI mempertegas pembagian urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota;
SMK-BI menerapkan tata kelola yang baik (partisipasi, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum, keadilan, efektifitas, efisiensi, profesionalisme, demokrasi, dsb.) sehingga menjadi SMK-BI yang dapat dipercaya oleh masyarakat

SMK-BI melakukan upaya-upaya sebagai berikut:
memperbanyak mitra sekolah (DU/DI khususnya) dan melibatkan mereka dalam penyelenggaraan sekolah;
merumuskan kembali ketentuan-ketentuan sekolah, peran unsur-unsur sekolah, kebiasaan, hubungan antar unsur sekolah;
mengklarifikasi fungsi-fungsi manajemen sekolah (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, dan peng-evaluasian);
meredistribusi kewenangan, tanggung-jawab, akuntabilitas, abilitas; dan
membangun tim pengembang sekolah yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah.

10. Kebijakan dan pengawasan pemerintah daerah mendukung prinsip-prinsip MBS dan tidak bertentangan dengan-nya khususnya dalam pengelolaan dana (catatan: MBS diberi keluwesan-keluwesan dalam mengembangkan daya kreasi, inovasi, dan eksperimen-tasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru sehingga memer-lukan keluwesan-keluwesan dalam pengelolaan dana, asal dapat dipertanggungjawabkan)

Menerapkan 9 kebiasaan perilaku orang tangguh: proaktif, mulailah dengan mengacu pada tujuan akhir, dahulukan yang utama (buat prioritas), berfikir menang-menang (saling menghidupi), mendengar baru didengar, bersinergi (kerjasama kreatif yang memberi nilai tambah), pembaruan secara terus menerus (pro-perubahan), berjiwa kewirausahaan, dan spirit baru untuk maju (lihat Stephen Covey, 2005)

Kepala SMK-BI harus mengetahui persis kebutuhan sekolahnya dan menanggapinya dengan hati nurani dan upaya yang sungguh-sungguh dengan menerapkan kemampuan dan keinginan yang besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut

SMK-BI merumuskan tujuan yang akan dicapai secara jelas, cari orang-orang yang memiliki kemampuan dan komitmen, tanamkan investasi pada mereka dan interaksikan serta koordinasikan mereka agar solid untuk mencapai tujuan
SMK-BI agar menerapkan manajemen mutu terpadu (perbaikan secara terus menerus, pelibatan secara total unsur-unsur sekolah dan berpusat pada pelayanan siswa)
SMK-BI segera mengembangkan kapasitasnya untuk mencapai 8 SNP dan standar-standar internasional

Warga SMK-BI agar belajar dari praktisi pendidikan yang sukses (kepala sekolah, guru, konselor, siswa, dsb.).

Kepala SMK-BI selalu menciptakan tantangan yaitu selisih antara apa yang diharapan oleh sekolah untuk peserta didik di masa depan (visi) dengan apa yang dicapai saat ini. Kepala SMK-BI menggunakan tantangan ini sebagai penggerak untuk memajukan sekolahnya

Kepala SMK-BI menciptakan peluang/kesempatan yang konstruktif dan kreatif bagi pengembangan sekolahnya. Dia akan selalu menciptakan peluang yang akan membawa sekolah sesedekat mungkin dengan pencapaian visi dan misinya

Kepala SMK-BI selalu membangun sekolah sebagai sistem dan menggerakkan warganya untuk membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah serta saling terkait, seperti layaknya orkestra atau gamelan

Kepala SMK-BI selalu mendorong bawahannya untuk mengambil resiko. Dia menciptakan kondisi/lingkungan yang mendorong bawahannya merasa enak untuk melakukan kreasi, inovasi, prakarsa, inisiatif, dan eksperimen-tasi, meskipun hasilnya salah dan diharapkan mereka belajar dari kesalahannya. Tempat kerja merupakan universitas terbaik kedua setelah perguruan tinggi.

Kepala SMK-BI menerapkan prinsip-prinsip “tut wuri handayani, ing madyo mangun karso, ing ngarso sung tulodo”. Dibelakang mendorong, ditengah mempengaruhi, dan di depan menjadi contoh. Dia memimpin melalui layanan yang baik dari pada melalui jabatan/posisinya.

Kepala SMK-BI selalu meng-gunakan informasi yang akurat untuk melakukan perubahan (inovasi, reformasi, revitalisasi, resistemisasi, restrukturisasi, rekon-figurasi, rekulturisasi, refigurisasi, atau apapun namanya)

Kepala SMK-BI mengarahkan dan membimbing warga sekolahnya untuk mencapai tujuan jangka panjang melalui penyusunan rencana induk pengembangan sekolah (RIPS), rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop). Mengarahkan pelaksanaan rencana operasional agar konsisten menuju renstra dan mengarahkan renstra agar konsisten menuju RIPS memerlukan kepala sekolah berketerampilan tinggi.

Kepala SMK-BI harus mampu memobilisasi sumberdaya atau aset yang ada dilingkungannya, baik aset intelektual, moral, finansial maupun material

Kepala SMK-BI menerapkan prinsip-prinsip negosiasi, menang-menang, dan egaliter dengan stakeholders dalam membangun sekolahnya

Kepala SMK-BI menerapkan strategi perubahan yang memang sesuai dengan turbulensi perubahan itu sendiri sehingga dia harus mutakhir dengan dinamika perubahan yang terjadi

Kepala SMK-BI selalu menjadikan bawahannya sebagai “learning person” dan menjadikan sekolahnya sebagai “learning organization” seraya tujuan sekolah dicapai dengan sukses
Catatan: Learning organization memiliki perilaku-perilaku seperti berikut: memberdayakan sumberdaya manusia seoptimal mungkin, memfasilitasi warganya untuk belajar terus dan belajar kembali, mendorong kemandirian setiap warganya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warganya, mendorong warganya untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, dan lincah), cepat tanggap terhadap pelanggan, mengajak warganya untuk menjadikan
sekolahnya sebagai institusi yang memfokuskan pada layanan pelanggan, mengajak warganya untuk siap dan nikmat terhadap perubahan, mengajak warganya untuk berpikir sistem, mengajak warganya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warganya untuk melakukan perbaikan secara terus menerus.

SMK-SBI harus memberikan bekal dasar untuk mengaktualkan potensi spiritual, intelektual, emosional dan pisikal peserta didik melalui perubahan-perubahan yang dirancang secara matang;

SMK-SBI memiliki sifat alamiah untuk menjadi tua, layu dan kering, jika tidak dijaga, dipelihara, disiram dan dikembangkan;

SMK-SBI merupakan pusat keunggulan dan pusat gravitasi dari SMK-SMK di sekitarnya sehingga SBI-SMK harus memiliki kelebihan;

SMK-SBI harus pro-perubahan yaitu yang mampu mengembangkan daya kreasi, inovasi, inisiasi, dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru;
Oleh karena itu, SMK-SBI jangan sampai tertambat pada tradisi dan kelumrahan masa lalu;

SMK-SBI harus memperbanyak bentuk-bentuk sinergi positif dengan pihak-pihak lain;



PBM SMK-BI jangan hanya mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, tetapi harus mengembangkan daya kreasi, inovasi dan eksperimentasi;
Untuk memacu kemajuan perlu ditumbuhkan persaingan tetapi perlu diimbangi dengan nilai solidaritas dengan model-model kegiatan kolektif (tim, gugus tugas, regu kerja, dsb.);

Perlu dikembangkan proses belajar mengajar yang bermatra individual-sosial-kultural agar sikap dan perilaku peserta didik sebagai makhluk individual tidak terlepas dari kaitan-nya dengan kehidupan masyarakat;
Perlu harmonisme proses pendidikan antara nilai-nilai religi (sebagai acuan makna hidup dan penangkal arus materialisme dan pragmatisme), solidaritas (kesetiakawanan), seni (syahdu, memperhalus dan memperkaya keindahan citarasa), ekonomi (materalisme), teori/iptek (untuk keenakan hidup), dan kuasa (politik).

Jaga keseimbangan
Keseimbangan tujuan pendidikan antara daya pikir, daya qolbu dan daya pisik;
Keseimbangan antara tujuan pribadi dan sosial
Keseimbangan antara kreativitas dan disiplin;
Keseimbangan antara persaingan & kerjasama;
Keseimbangan antara kemampuan berfikir holistik dan atomistik;
Keseimbangan antara berfikir deduktif dan induktif;
Keseimbangan antara tuntutan dan prakarsa

TUGAS DAN FUNGSI KEPALA SMK-BI
Mengarahkan sekolahnya melalui perumusan visi, misi, tujuan, kebijakan, rencana, dan program kerja yang jelas;
Membimbing atau memfasilitasi warga sekolahnya melalui pelatihan, lokakarya, pedoman kerja, petunjuk kerja, prosedur kerja, dsb.;
Mengatur sekolahnya melalui peraturan sekolah, tata tertib sekolah, ketentuan-ketentuan (kualifikasi, spesifikasi, dsb.); dan
Memantau pelaksanaan dan mengevaluasi hasil pendidikan di sekolahnya

Mengelola sekolah (fungsi manajemen dan substansi pendidikan) dengan menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik
Memimpin warga sekolah melalui pengarahan, yang jelas, pembimbingan, keteladanan, pemberdayaan, pembimbingan, pemotivasian, dsb.
Mengembangkan organisasi sekolah agar menjadi organisasi yang selalu mau belajar
Mengadministrasi sekolah dengan pengaturan dan pendayagunaan sumberdaya pendidikan
Mendorong warga sekolahnya untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan
Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan Kejuruan;
Memiliki informasi ketenagakerjaan (jenis, jumlah, tempat, waktu, dan persyaratan untuk memasukinya)
Memiliki kemampuan membangun jaringan/kerjasama nasional dan internasional, khususnya dengan DU/DI, PT, lembaga pelatihan, dsb.


KOMPETENSI KEPALA SMK-BI
Memahami Sekolah sebagai Sistem;
Memahami Manajemen Berbasis Sekolah;
Merencanakan Pengembangan Sekolah;
Mengelola Kurikulum;
Mengelola Pendidik dan Tenaga Kependidikan;
Mengelola Sarana dan Prasarana;
Mengelola Kesiswaan;
Mengelola Keuangan;
Mengelola Hubungan SMK dengan DU/DI;
Mengelola Kelembagaan;
Mengelola Sistem Informasi Sekolah;
Memimpin Sekolah;
Mengembangkan Budaya Sekolah;
Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas, Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan;
Mengembangkan Diri melalui CPD (continuous professional development);
Mengelola Waktu;
Menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah;
Memberdayakan Sumberdaya Sekolah;
Melakukan Koordinasi/Penyerasian;
Mengambil Keputusan secara Terampil;
Melakukan Monitoring dan Evaluasi;
Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan);
Menyiapkan, Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi; dan
Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah;


ILMU-ILMU YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG KEPALA SMK-BI
Pendidikan Kejuruan ? Pemberdayaan siswa
Ketenagakerjaan ? Informasi ketenaga-kerjaan
Kebijakan ? Pengalokasian kepentingan (akses, mutu, relevansi, daya saing, dsb.)
Manajemen ? Pengembangan sistem
Organisasi ? Pengembangan wadah
Administrasi ? Pengaturan & pember-dayaan sumberdaya
Regulasi ? Aturan main
Kepemimpinan ? Pemberdayaan yang dipimpin
Komunikasi & Jejaring ? pengembangan kerjasama domestik & internasional, khususnya dengan lembaga-lembaga sertifikasi internasional dan DU/DI
Kreativitas & Inovasi ? pengembangan daya cipta (memikirkan sesuatu yang belum dipikirkan oleh orang lain/SMK lain)
Jiwa kewirausahaan ? nilai tambah
Wawasan regional & global ? tuntutan atau tantangan

TUPOKSI FASILITATOR “MBS”
-Memfasilitasi pelatihan MBS & RPS;
-Membimbing sekolah dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi rencana pengembangan sekolah (RPS)
-Memantau & membimbing pelaksanaan MBS dan RPS;
-Melaksanakan evaluasi pelaksanaan MBS & RPS;
-Membuat laporan hasil evaluasi MBS & RPS serta usulan perbaikannya;
-Memfasilitasi revisi MBS & RPS oleh sekolah; dan
-Memfasilitasi sekolah agar pro-perubahan (kreatif, inovatif, eksperimentatif, dsb.).
-Memfasilitasi pelaksanaan MBS yang meliputi perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengkoordinasian, dan evaluasi semua urusan sekolah
-Memfasilitasi implementasi inovasi-inovasi pendidikan, misalnya SNP (kompetensi lulusan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, proses, penilaian, sarpras, pengelolaan, pembiayaan), akreditasi, MBS, Komite Sekolah, PAKEM, CTL, KTSP, tata kelola sekolah yang baik, dan sertifikasi pendidik)
-Memantau proses dan mengevaluasi hasil penyelenggaraan pendidikan di sekolah;
-Memfasilitasi sekolah dalam melaksanakan Permendiknas 19/2007 tentang Pengelolaan Sekolah
-Membimbing/memfasilitasi sekolah dalam menyiapkan dan menindaklanjuti akreditasi sekolah

halaman yang berhubungan



0 comments:

Poskan Komentar

Joint with me.



Statistik




Dari yg online:

Your IP

IP

Powered by

List View

 

Copyright 2011. Peter Pakpahan